Laskar Pelangi

November 16th, 2008 by lia-sunflower

 

Akhirnya… setelah sebulan kepengen dan gagal terus, malam ini kami bisa nonton film Laskar Pelangi. Harapan untuk mendapatkan sesuatu pastinyalah cukup besar. Wong ini film sudah ditonton 1,1 juta orang di Indonesia jeee… Begitu sampai di bioskop, tetep ajeee dapet baris paling depan. Tapi nggak papalah sekali-sekali… kan biar merasa lebih dekat juga dengan pemainnya, hehehe garing!

Hmmm… kalo aku punya 8 jari jempol, pasti semuanya aku angkat tinggi-tinggi untuk memuji film ini. Terlepas dari kekurangan-kekurangan dan lompatan-lompatan ceritanya, kami menikmatinya sangat. Jadi mengenang rasa waktu nonton sinetron ideal jaman dulu, dokter Sartika.

Sssttt, mulai dari pertengahan sampai akhir film, air mataku mengalir nggak berhenti-berhenti. Bukunya mengharukan juga tetapi terus terang ada halaman2 yang kulompati karena kepanjangan. Nggak berhenti juga aku bersyukur. Meskipun tidak berlebihan Alhamdulillah aku tidak kesulitan untuk sekolah. Aku salut dengan jalan ceritanya di film. Menjadi cukup hidup dan menggetarkan.

Mulai dari anak laki-laki yang mau tidak mau harus sekolah memakai sepatu warna pink dan belajar bersama dengan anak tuna grahita yang spesial. Keterbatasan tidak membuat mereka berhenti. Malah makin semangat dan  kompak. Mudah-mudahan anak2 yang pada niatan bunuh diri, pada nonton film ini deh atau minimal tahu ceritanya… Ada anak yang jarak rumahnya jauuuhhh dari sekolah. Tiap pagi harus nunggu buaya melintas dulu, baru dia bisa meneruskan kayuhan sepedanya. Tiap hari bok naik sepeda jauh bener… 

Ada penggalan2 cerita manusiawi yang ditampilkan. Bagaimana ketika Pak Basri ditawari menjadi kerja di tempat lain, ketika Pak Kepala Sekolahnya meninggal dan ketika Ibu Mus menjahitkan baju untuk anak-anaknya lomba cerdas cermat. Hehehe banyak juga yang lucu… Anak yang seneng banget musik, ada yang keranjingan beli kapur karena keracunan kuku, sampai ke niat nyari dukun biar lulus ujian. Dasar…

Gaji bapak dan ibu gurunya tersendat-sendat. Tapi karena komitmen yang kuat, mereka tetap idealis bertahan. Perjuangan yang mahal di jaman sekarang ya… Kalau ditanya kenapa korupsi, katanya karena negara tidak memberikan gaji yang cukup untuk pegawainya. Udah tahu gajinya kecil, kenapa yang ngantri kalo pendaftaran pegawai panjang amat ya? Trus yang di koran sampe ketipu 1,2 milyar itu kenapa ya? Pengennya sih lihat padamu negeri kami mengabdi… bukan sepanjang hari nongkrong di warung nasi…

Kembali ke film! Prestasi demi prestasi akhirnya mereka dapatkan dengan cara dan jalan yang unik. Di karnaval 17an mereka meniru tarian suku Asmat dan di lain waktu mereka ikut cerdas cermat. Padahal paginya, si buaya yang biasanya hanya melintas eh hari ini malah berjemur. Jadi aja itu anak hampir terlambat.

Satu yang sempet bikin sedih banget adalah waktu anak nelayan yang rumahnya jauh banget itu harus kehilangan Bapaknya. Bapaknya pergi melaut dan nggak pernah kembali lagi. Jadi aja anak itu harus berhenti sekolah dan mengurus adik2nya karena Ibunya juga udah meninggal. Padahal anak ini pintar, lumayan rajin baca koran dan belajar. Dia juga yang menjawab pertanyaan matematika terakhir di lomba cerdas cermat dan bikin tim SD Muhammadiyah menang…  

Endingnya agak-agak kurang menggigit. Kalo nggak salah yang ditampilkan hanya 2 anak dari semua laskar pelangi. Yang dulu dikasih kotak kenang2an bergambar menara Eiffel dari demenannya sama si anak nelayan itu. Yang dikasih hadiah kotak akhirnya dapat beasiswa ke Paris dan si anak nelayan menurunkan mimpi serta kepandaiannya kepada anak perempuannya… Eh yang suka musik dan koreografer tari Asmat itu  disebutin juga jadi novelis.

Mimpi adalah kunci / Untuk kita menaklukkan dunia / Berlarilah tanpa lelah / Sampai engkau meraihnya /

Laskar pelangi / Takkan terikat waktu / Bebaskan mimpimu di angkasa / Mencari bintang di jiwa…

Menarilah dan terus tertawa / Walau dunia tak seindah surga / Bersyukurlah pada Yang Kuasa / Cinta kita di dunia / Selamanya…

Cinta kepada hidup / Memberikan senyuman abadi / Walau hidup kadang tak adil / Tapi cinta lengkapi kita…

Laskar pelangi / Takkan terikat waktu / Jangan berhenti mewarnai / Jutaan mimpi di bumi…

Jakarta, 16Nov2008 ~ 23.08

Masih niat pengen angkat 8 jempol

Yang Mencerahkan…

October 26th, 2008 by lia-sunflower

 

Konsumen jalan tol seiprit setelah Kampung Rambutan sebelum tol dalam kota pasti ingat ada Bapak penjaga pintu yang selalu semangat. Tidak banyak yang dilakukannya dalam 10 detik perjumpaan kami. Paling mengucapkan, “Selamat pagi, Bu…” Mengambil uang dan mengembalikan jika perlu, lalu tersenyum dan tak lupa selalu, “Terima kasih, bu… hati-hati di jalan ya”…

Sederhana tetapi menyemangati. Menambah energi untuk menghadapi hari. Rasanya tiap pagi selalu ingin melewati pintu yang dijaga Bapak ini. Dari jauh sudah tebak tebak buah manggis. Pintu mana yang ada si Bapak ceria…

Pagi ini aku lewat tol TB Simatupang lagi… harap-harap cemas, milih milih, akhirnya aku masuk pintu ketiga. Alhamdulillah… meskipun suaranya melemah, tapi sapaan selamat pagi tak pernah lupa. Aku sempat melirik papan namanya. Ooo ternyata namanya Pak Sarjono (semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya)…

Dengan cara yang sederhana dan tidak menyusahkan siapapun, kita juga bisa mencerahkan siapa saja, seperti Pak Sarjono. Selamat pagi juga, Pak…

Rindu_Indonesia_Jaman_Dulu, 31Oct2008 ~ 23.55

BERSATU KITA TEGUH

October 21st, 2008 by lia-sunflower

 

Tempat kerjaku habis “dibombardir”. Alhamdulillah meskipun berdarah-darah berurai air mata, semua awak Indonesianya masih (cie cie cie…) tegar berdiri dan saling berpegangan tangan. Pasti bukan dalam arti sebenarnya dong. Bukan muhrim… bukan muhrim… Terus jadi ingat juga pepatah yang bilang: sesuatu yang tidak membuatmu mati, akan menjadikanmu semakin kuat. Amiiinnn…

 

Orang dulu bilang: tak ada gading yang tak retak. Artinya semua yang ada di dunia ini tidaklah sempurna. Meskipun demikian, yang namanya berbohong untuk menutupi ketidaksempurnaan itu ndak boleh juga, Bu… apalagi buat popularitas diri sendiri. Masih mending kalo bohongnya untuk menyelamatkan diri sendiri. Nah kalau menyakiti orang lain? Saudara sendiri? Weleh weleh weleh… Wewenang untuk memanggil, bertanya sampai menghukum punya. Mbok ya digunakan… Kasih tahu apa yang seharusnya dilakukan. Kalau bingung mau ngasih tahu apa, panggil! Duduk bersama dan bicara. Negara ini lebih beradab kok daripada hanya meneriakkan kalimat kojo: usir, tutup, ganyang. Hiii… kayak jaman apaan ajah.

 

Ngomong-ngomong soal berimbang. Yang namanya berita itu susah juga diseimbangkan. Udah ngomong berbusa-busa, tetep aja ada yang keplintir. Mungkin sengaja, mungkin juga DDR alias daya dong rendah. Selalu ada kepentingan-kepentingan yang menyertai. Banyak! ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan bahkan SARA. Tidak usah ada yang memikirkan perasaan pegawai kantorku dengan berita dan omongan seenaknya. Kami semua bisa saling SMS, saling bertelepon, saling berbagi ketidakseimbangan, kesakitan dan tetap berpegangan tangan. Akhir-akhir ini adalah tertawa-tertawa kecil sebagai hiburan. Giliran ditangkap dan diadili, situ nangis. Bilang berita tak berimbang. Bilang ahli telematika berbohong. Giliran kena kasus susu, situ bilang berita nggak berimbang dan menyudutkan. Well, pembalasan itu memang nggak selalu harus menunggu kiamat juga… rasakan! Hihihihihihihihi (ketawa kuntilanak Indonesia ya…)

 

Mengganggu kedaulatan negara? Tidak memberikan informasi yang benar tentang kegiatan kantor kepada masyarakat Indonesia? Waduh! Sumpah Bu… nggak pernah terlintas dalam pikiran, perkataan dan perbuatan. Dulunya teman-teman sekantor ini aktif ikutan Pramuka, PMR, Paskibra, pertukaran pelajar, juara lomba pidato, juara kelas, ketua senat, tidak pernah pakai obat terlarang, anak tentara binaan orde baru, anak veteran, selalu ikutan upacara di hari Senin pagi. Ya meskipun telat-telat dikit sih… 

 

Beberapa dari kami ada juga yang pernah nakal-nakal ABG gitu. Naik motor kebut-kebutan, trus jatuh keseret masuk kolong truk yang lagi jalan. Motornya dekok trus ditutupin pakai lap biar orang tua nggak tahu. Ada juga sih… tetapi nggak pernah terlintas kami akan menghianati negara ini, meskipun bendera tempat kami bekerja ditaburi bintang-bintang dan lurik-lurik. Nggak pernah! Cuma memang sayangnya nggak ada yang lulus waktu ujian jadi PNS, jadi di sinilah sekarang tempat kami mengabdi…

 

Selalu mengharap yang terbaik,

Jakarta 21 Oktober 2008 ~ 20.51 WIB

Ibu Senang, eh Anaknya Berang

July 29th, 2008 by lia-sunflower

"N orang, pak!" sambil menyodorkan uang waktu masuk ke arena jalan-jalan. "N-1 aja, Bu nggak papa. Anaknya yang perempuan masih kecil ini…" kata Pak Penjaga sambil menyodorkan kembalian. Ibu-ibu mana sih yang nggak suka diskon? Huhuhu ibu yang ini juga…

Lho lho lho kenapa juga tiba-tiba ada bunga layu? Perasaan yang dapet giliran disiram pohon-pohon di rumah deh… Tadinya mau mulai percakapan, jadi ganti intonasi suara deh. "Kenapa cemberut dek? Kepanasan?" cocok buat pertanyaan ibu-ibu yang masuk empati idol :p…

"Aku kan udah 5 tahun ibu… kenapa aku nggak usah bayar? Aku kan sudah besar! Sudah kelompok B", masih sambil cemberut. Ibu yang tadinya senang jadi harus pura-pura nggak senang ya? Hehehe… masa’ mau bilang lumayan jeng… kan BBM baru naik. Uang gratisan tadi bisa buat lainnya, hihihi… Ayo ibu-ibu yang lain, harus menjawab gimana? :p

Keluarnya jadi gini deh: "Iya, nanti lagi Ibu bilang deh sama penjaganya supaya kamu bayar seperti mas. Ada satu juga nih tambahannya, biar keliatan gede adek harus makan yang cukup. Jangan lupa minum susu dan makan sayur!" Hehehe misi dan visi ibu-ibu mah teteeep!

Sambil nungguin yang pada ngerjain PR toh… 29July2008 : 19.30

LaGu FaVoRiTE iBu

June 6th, 2008 by lia-sunflower

TEKO

Aku teko kecil yang mungil

Ini badanku, ini corongku

Bila aku mendidih, aku menjerit awww

Angkat aku dan tuangkan

Angkat aku dan tuangkan

JARI JEMPOL

Jari jari jari jempolku

Kuangkat tinggi-tinggi untuk ibuku

Jari jari jari jempolku

Kuangkat tinggi-tinggi untuk ayahku

Trima kasih ibu telah mendidikku

Trimakasih ayah telah membimbingku

Jari jari jari jempolku

Kuangkat tinggi-tinggi untuk ayah ibu

SaLaH KaTa… TeBaK KaTa

June 3rd, 2008 by lia-sunflower

Di rumah lagi musim denger kata yang kebolak balik. Biasa deh… siapa lagi kalo bukan yang Sepanjang Hari Nggak Bisa Diem Barang 5 Menit. Eh tapi kalo diem sebentar, Ibunya yang iseng gangguin biar dia berkicau lagi.

Ceritanya ke warung. Hehehe biasalah ibu-ibu yang occasionally cooking. Ditemani anak wedhok sambil gandengan toh. Hello hello sama tetangga yang nyapa si Gendhis di sebelahku. Terkenal amat ya? Secara tiap sore ngider kompleks toh…

Sampai di warung, mata langsung mencari-cari sasaran dong. Sementara anak kayaknya langsung menguji daya ingat. Pelajaran sayur-sayuran nih serunya. Di depan kami ada sayur lonjong, warna ungu, gagangnya masih hijau. Si Gendhis langsung nyolot, "Aku tahu ini namanya apa!" Weis… dari pembeli lain, pedagang sama ibunya berpaling dong… Tak tanya, "Apa itu Dek?"… Semangat 45 dia menjawab, "Ini Toreng*!". Tet tew… sewarung ketawa semua, aku juga.

Masih belum puas, tapi suaranya lebih pelan dari yang tadi. Ada sayur yang dipercaya membuat ngantuk sehabis kita memakannya, hijau, batangnya berongga. Dia mengaku tahu apa nama sayur itu. Begitu ditanya itu apa, jawabnya adalah sayur merak**… Dua kali tet tew… Sewarung senyum-senyum aja, trus ngasih komentar yang bikin semua ibu-ibu melayang senang. Ah tersipu aku…

Sorenya si Srengenge demam. Biasalah kebanyakan makan es. Si Centil Yang Ngomong Nggak Beres-beres mulai rentet tanya. Mas sakit apa? Kenapa? Lama nggak sakitnya? Kalau lama sembuhnya, mendingan kita ke HERMANI***… tet tew… yayaya!

Sedang sibuk-sibuk sama Mas Mentari Sore, tiba-tiba telepon bunyi. Alhamdulillah selamat sebentar kuping (hehehe)… dari jauh kedengaran. Assalamu’alaikum… Ini Sekar… Iya, aku masih di TK… Belum, aku belum ikutan KUNO****… Mau bicara sama Uti? Sebentar ya… Gagang telpon ditaruh, bruk. Si Jarang Jalan setengah teriak manggil Utinya. "Uti… ada telpon dari Eyang Hermina*****…  tet tew…

Catetan:  * = Terong; ** = Kangkung; *** = Hermina; **** = Kumon; ***** = Hermani.

03Juni2008 - Sekarang 23.30 WIB,

MasihDiKamarMama…

BuNGa dan KuMBaNg… (Padahal Tawon)

June 3rd, 2008 by lia-sunflower

Maghrib yang kudunya buru-buru sholat jadi rame banget sama pecahan tangis anak kecil. Kencengnya ngalah-ngalahin pencetan nomer 5 di kantor. Ya Allah… ada apaan yak? Lari deh buru-buru, secara yang nangis Sekar Mewangi Sepanjang Hari 

Sampai di TKP, yang ada Bunga Mewek susah ditanya sambil megangin telapak kaki dan terkapar gepeng di sampingnya seekor kumbang (padahal tawon). Ampuuun, huru hara apaan sih? Ternyata gini ceritanya:

Si Bunga, dasarnya Bunga. Ada kumbang (padahal tawon) terbang-terbang malah dikejar-kejar. Kumbang (padahal tawon) kesel kali ya. Yang namanya Bunga bukannya kudunya diem aja menanti kumbang? (yang ini yakin bukan tawon)… Mungkin saking keselnya itu si kumbang (tapi tawon), dicarilah titik lemah si Sekar Pujaan Ibu. Ternyata di telapak kaki, saudara-saudara… Bingung juga sih itu kumbang (ternyata tawon) gimana ngincer telapak kaki ya? Atau pas lagi asyik-asyik ngincer malah keinjek? Nah kagak jelas dah…

Yang jelas, sih entup-nya (sengat kali ya…) ketinggalan di kulit si Sekar. Nangis sampai langit bikin mbak nggak terima. Nggak dikasih kesempatan napas 2 kali, itu kumbang malang (meskipun tawon) dikepruk pakai keset sampai gepeng. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un…

Ya emang sih setelah ngentup (menyengat), tak lama lagi bakal game over juga. Tapi yang namanya si mbak, nggak bisa dong ngeliat anak asuh menangis. Mana Nyonya ada di rumah lagi (hehehe)… Akhirnya sempet juga keluar jurus tradisional dioles kunyit dan ngipasin karena ada serangan panas kaki. Ya tak papalah… pengalaman! Pengalaman yang menyakitkan, meskipun katanya bunga dan kumbang (itu tawon) berpasangan, sesekali ada juga masanya saling menyakiti… 

Kamar Mama, 03June08 – 23.07 WIB

NYaRI SeKoLaH… (SD aJa GiTHu LoH)

June 3rd, 2008 by lia-sunflower

Rencananya SD Negeri ajalah. Biar temennya beragam, biar tahu juga kalau di Indonesia ini isinya bukan seagama aja dan bukan orang dari kalangan tertentu aja. Browsing-browsing, ternyata di belakang kompleks ada SD Standar Nasional loh. Wah kayaknya ini nih calon kuat tujuan daftar…

Mau ngantri ambil nomer aja, berangkatnya kudu abis Subuh. Itu juga udah dapet nomer 62. Nggak papa wes… Map kudu warna kuning, pake beli materai dan belinya kudu di Koperasi Sekolah biar seragam. Tak tandangi… Insya Allah berkah…

Ujian calistung hari pertama, hari kedua wawancara dan potensi kreativitas judulnya. Ampuuun bahasa hari gini ya? Yang deg-degan orang tuanya. Cutilah buat nunggu yang ujian… Sampai sekolah anaknya baris dan disuruh nyanyi: jari… jari… jari jempolku kuangkat tinggi-tinggi untuk Ibuku… Belum selesai bait satu, ada air anget ngalir di pipiku. Hehehe cuma masuk SD saja mooo… su pake air matakah?

Semasa menunggu, inget jaman dari TK ke SD. Perasaan abis bagi rapot, besoknya disuruh baris. Diantar sama guru-guru ke SD Bersubsidi di kompleks yang sama trus diserahkan ke Ibu Wahyuni, guru wali kelas 1 SD WR Supratman. Sederhana yang terkenang…

Anak lanang, keluar kelas selalu ceria. Hari pertama cerita bisa mencocokkan gambar dengan tulisannya, mewarnai perahu meskipun benderanya warna jingga sama hijau, sama kurang-kurang dan tambah-tambahan. Heran ya, diceritain gitu aja rasanya ayeeemmm banget. Hari kedua calon kakak SD ini cerita ditanya nama orang tua, nomer telpon rumah, alamat, hitung one to ten sama color. Yang lupa cuma nama tempat kerja ibu, hehehe nggak papa Nak… daripada Bu Gurunya inget pernah masuk tipi? kan repot ngatur senyumnya…

Hari pengumuman tiba. Isuk-isuk bar subuh menengok pengumuman lagi. Sayangnya, nomer ujian anak lanang nggak muncul di papan pengumuman. Lemes juga… apalagi sekompleks ada yang komentar karena nggak pake saweran. Halah… saweran kepiye? Dibrowsing browsing, malah gregetan. Yang di papan diterima 54 orang, kok di situs resminya bilang diterima 70 orang. Oalah… piye tho iki? Yang 16 itu dari mana ya?

Banyak rencana, Allah juga yang menentukan. Yang keliatannya yakin baik menurut kita, mungkin tidak baik di Mata Yang Punya Kuasa. Ya sudahlah… SD di sekitar sini masih ada 62 sekolah lagi. Masa’ iya Matahari Tersayang nggak kecantol di salah satunya? Insya Allah yang dimulakan dengan baik, akan berakhir baik…

Tadi sesorean tak liatin anak lanangku seorang (ceileee)… Aku bicara dalam hatiku, "Insya Allah dia bisa jadi anak yang berguna, paling tidak buat ibunya". Terima kasih selangit untuk Mama, Uyut, Bu Sri, Mbak War dan Mbak Pri yang sudah membantu dan selalu mendoakan. Spesial buat Sekar, terima kasih untuk doa setelah sholatnya waktu mas mau ujian. Ya Allah, tolong terima mas di SD itu ya Allah… Aku seneng kalo mas di SD itu, aku jadi bisa bilang Ibu untuk pindah ke TK yang deket rumah. Huuu… doanya tetep ada muatan lokal :)

Di Kamar Mama sambil SMSan curhat sama Betty,

04Juni08, 00.03 WIB

MATAHARI (kok) BULAT BUNDAR?

April 11th, 2007 by lia-sunflower

Kerasa bener nggak enak punya anak dengan berat badan di bawah standar. Meskipun sehat dan lincah, tetep aja ada kesan ibunya nggak ngurusin (kaliii)         … Sama seperti matahariku, lahir lumayan kempluk, eh pas mulai jalan keliatan deh kurusnya. Bukan sekedar kurus tapi kurus banget. Duh duh duh… sampe suka trauma kalo nganter matahari sakitku ke dokter. Abis nimbang ato pas ngasih obat pasti dokternya menyinggung soal berat badan,  daya upaya untuk mengatasinya sama tes-tes yang bisa dilakukan untuk melihat ada kelainan atau nggak. Ibunya pasti tertunduk dalam, nggak bisa celingukan :<

Lain batu lain karang, lain dulu lain sekarang. Yang namanya matahari sekarang bulat bundar berdagu 2 berkaki seperti pemukul bedug. Dulu sedih karena anaknya kurus, sekarang (agak) sedih karena dituduh membiarkan anak makan tanpa kendali. Susah juga ya hidup ini? Hihihi…

Matahari bulat bundar ini adalah matahariku. Setelah kurus yang berkepanjangan, sekarang aku sedang menikmati masa-masa dilahapnya sate padang yang pedes tapi enak, rendang yang bikin matahari minum terus, telur yang mata sapinya sepasang, juga susu yang kayak air putih… Rasanya nggak sia-sia menyiapkan semuanya untuk buah hati tercinta…

Biarlah sekarang matahariku sedikit bulat bundar. Biarlah dagunya dua setengah. Biarlah kamu menikmati semua yang sehat-sehat itu, seperti ibu menikmati antusiasmu, nak! Nanti kalo sudah waktunya tiba, kita atur jadwal basket atau voli atau badminton sama-sama ya… Kamu yang olahraga sama teman-temanmu, ibu yang nonton. Atau kamu mau ajak ibu olahraga juga? Ibu pasti perlu karena tulang dan daging ibu akan bertambah usia tetapi harus tetap digerakkan. Sekalian kan kita bisa saling menemani… J

April 11, 2007

Ibu yang (menikmati) punya matahari bulat bundar…

BUNGA BERTUMPUK TUMPUK

April 10th, 2007 by lia-sunflower

Hari-hari terakhir ini lagi lumayan penuh argumentasi. Sssttt bungaku lagi seneng pake baju tumpuk-tumpuk. Sebagai contoh: rok balon berbunga-bunga warna oranye dan merah, di dalamnya ada celana panjang coklat ada oranyenya, pake kaos oranye, dilapis dengan kemeja merah yang nggak dikancing, trus pake kalung mutiara ibu. Ck ck ck… mau ada reog di mana neng?

Baru pulang kantor dan masih ternganga melihat kostum si bunga. Protes dong secara ibu normal… Dijawab dengan ya biarlah… sama kerlingan manja kedip-kedip. Ya sudahlah… toh nggak menyakiti yang lain juga…

Besoknya kejutan pulang kantor masih berlangsung. Hari ini nuansa hijau. Pake rok plitsket (bener gak nulisnya?) ijo, dalemnya celana sebetis warna item, atasnya kemeja putih ada gambar bunga warna ijo, pake kemeja ijo nggak dikancing sama nggak lupa kalung mutiara ibu. Duh… kalo ijo kenapa agak lumayanan ya? Hahaha… nggak udah proteslah, mending dinikmati kecentilannya…

Pergi ke luar kota yang jadi heboh. Ibu normal mah bawa baju secukupnya kali. Lupa juga kalo bunga sedang suka bertumpuk-tumpuk. Agak masuk angin dan batuk jadi kerap muntah. Baju dalam jumlah normal harus dicuci dan dipake ulang dong… Bunga mulai protes karena bajunya itu-itu aja dan nggak bisa milih untuk ditumpuk-tumpukin… Sambil dipangku ibu, ibu bertanya, ”Emangnya harus bawa lemari?” Hahaha… nggak mempan karena ibu jadi dicubit kecil J… Negosiasi agak alot tapi akhirnya bisa ada tumpukan. Kaos pink, sama overall jeans bunga-bunga. Nggak ada kalung mutiara ibu neh… untungnya ada topi pink, jadi ibu selamet selamet…

Pikir punya pikir, secara anak sendiri (kayaknya) bisa dipuji nih (hihihi). Ternyata perpaduan warnanya lumayan serasi juga. Ya tabrakan sedikit nggak papalah. Umurnya juga baru mau 4 tahun. Lucu juga ngeliat dia bertumpuk-tumpuk, biar keliatan kempluk. Apalagi ditambah kerling kedip kedip. Aaahhh lemes deh ibu… Mau tumpukan lagi, nak? J

April 2007.

Musim bunga bertumpuk J