Masih melekat jelas mukaku yang tertekuk dalam, ketika mendengar salah satu atau kedua orang tuaku bertukar cerita tentang anak-anaknya kepada siapa saja. Males deh… menurutku itu adalah masa-masa penyiksaanku, bukan dengan pukulan, hinaan dan cercaan tetapi cerita-cerita keseharianku yang menurutku sama sekali nggak menarik dan banyak yang memalukan! Coba waktu itu Komnas HAM Anak udah ada ya… pasti Kak Seto akan tersenyum simpul mendengar semua laporanku atau malah masuk TV? Hmmm…
Puluhan tahun berlalu dan sekarang rodaku sedang menempatkan aku sebagai seorang ibu. Betapa aku menikmati kehidupanku sebagai seorang ibu dengan segala suka, suka, suka dan sukanya :)… Alhamdulillah, aku dikaruniai dua malaikat kecil, Bagaskoro dan Sekar, yang setiap detik hidupnya memberikan warna pada hidupku.
Ada tulisan yang aku sadur, aku revisi sesuai kebutuhanku dan aku setujui mentah-mentah. Maaf aku belum menyebutkan siapa penulisnya. Tetapi jika di kemudian hari aku menemukan siapa yang merangkai kata-kata indah ini, aku berjanji untuk untuk mencantumkannya di sini. Beneran!
Bagaskoro dan Sekar,
Kalian adalah gemerlap bintang di malam hari.
Bukan! Kalian lebih dari itu.
Kalian adalah pendar bulan di angkasa.
Bukan! Kalian lebih dari itu.
Kalian adalah benderang mentari setiap waktu.
Bukan! Kalian lebih dari itu.
Ternyata kalian adalah ringkasan semesta
Itu saja!
Tidak ada bosan rasanya menceritakan semua tingkah polah mereka sehari-hari. Teman-temanku adalah sasaran yang paling strategis untuk kubagi cerita tentang “ringkasan semestaku”.
Matahariku ini meskipun keliatannya keras, gagah perkasa dan nggak bisa diam (maaf ya, kecapku selalu yang nomer satu…), hatinya melo uwo uwo banget. Sudah 4 kali ulang tahunnya, aku selalu bertanya, “Kamu mau apa dari Ibu?” Dia selalu konsisten menjawab, “Aku mau keleta-keletaan (kereta-keretaan) sama mobil lemot (mobil remote)”. Hanya itu yang dia mau. Baru tahun ini aku masukkan (dengan sedikit memaksa) pilihan tenda supaya dia tambah senang melakukan kegiatan di luar rumah. Biasanya aku hanya akan mengabulkan satu saja permintaannya dan pilihannya akan terus berganti-ganti sampai mendekati hari H. Hari ini dia ingin kereta-keretaan, sejam kemudian diralat ingin mobil remote. Besok dia mau mobil remote, besoknya mobil remote, dan kereta dan mobil remote dan seterusnya. Termasuk penyiksakah aku kalau aku menikmati kegalauannya dalam menentukan pilihannya? Aku menikmati kerutan wajahnya ketika dia berpikir, aku menikmati caranya mengetuk-ngetukkan jari di dagunya, aku menikmati matanya yang berbinar ketika menyampaikan pilihannya dan aku menikmati semuanya sehingga aku selalu mulai menyampaikan pilihan itu dua minggu sebelum hari ulang tahunnya tiba. Termasuk penyiksakah aku?
Beberapa bulan yang lalu, Matahari kecilku ini mogok “sekolah”. Kalang kabut dong… secara “sekolah”nya pake duit getooo… kalo bayarnya boleh pake jagung atau papaya, mungkin reaksiku akan lain, mungkin… Aku coba tanya dengan berbagai cara, jawabannya masih hanya “aku cuma nggak mau”. Lama-lama keluarlah sedikit demi sedikit apa yang dirasakannya, termasuk mang ojek-nya yang suka telat jemput dan sekolahnya yang panas (nak, nak… di mana sih di Jakarta ini yang nggak panas?). Oke, tetapi aku belum menyerah, menurutku ini masih alasan yang (biasanya) bisa aku negosiasikan dengannya. Suatu malam setelah melihat bintang dan bulan di teras belakang rumahku, sekali lagi aku berusaha bertanya (nyecer lebih tepat kali ya…) kenapa dia enggan sekolah. Jawabannya cukup bikin aku mewek. Aku mau sekolah kalau Kakung (papaku) udah pulang dari surga. Aku pengen ketemu Kakung sebentar aja. Kan waktu Kakung meninggal aku belum sempat bilang aku sayang Kakung. Aku nggak mau kalau Kakung pulang aku pas sedang di sekolah. Aku menyerah lunglai deh… Ooo Bagas, Ibu sayang kamu, Nak… Termasuk lemahkah aku kalau kali ini aku menghargai pilihannya untuk “istirahat” sebentar dari kegiatan bersekolah?
Lain lagi dengan Bungaku. Menurutku dia begitu “keibuan” sama seperti ibunya deh (woo… yang kenal aku dilarang protes ya!). Senengnya ngaca dan pakai rok, kenes (centil), banyak bicara, pinter (sekali lagi maaf ya, kayaknya semua kecapku nomer satu dah) dan yang paling aku nggak tahan, dia pengen banget punya boneka Barbie. Aku? Aku sama sekali nggak bisa tertarik dengan Barbie, apapun kondisinya. Bukannya aku melarang orang lain untuk memiliki dan menghabiskan waktu mereka dengan boneka sexy itu ya… Aku hanya mencoba “meng-akukan” Bunga kecilku… Aku coba berbagai cara untuk menghalangi keinginannya memiliki boneka Barbie dengan berbagai alasan. Salah satu alasanku padanya, Barbie itu nggak suka bikin PR (Pekerjaan Rumah). Senengnya bikin kamu ganti-gantiin bajunya aja. Ibu nggak mau kamu ikut-ikutan nggak bikin PR. Di umurnya yang belum cukup 3 tahun, ternyata dia senang mengerjakan PR dari “sekolahnya”. Nyontoh ibunya lagi nih, hihihi… Itulah sebabnya aku merasa pendapatku akan lebih bisa diterima olehnya. Setelah mendengarkan alasanku, biasanya Bungaku akan bertolak pinggang, memajukan bibir mungilnya sedikit, berbalik menjauhiku sambil berkata, “Pusing aku pusing dengelin Ibu…”. Lagi-lagi aku menikmati kelakuan malaikat kecilku…
Seperti biasa aku selalu menelepon mereka sesampainya aku di kantor. Bukan untuk mengurangi rasa bersalahku karena aku bekerja di luar rumah dan meninggalkan mereka lho… Aku hanya ingin memastikan pesan “Ibu sayang kamu”ku hari ini sampai di telinga mereka. Biasanya mereka (Bungaku sih yang lebih sering) akan berkata, “Nanti kalau Ibu pulang bawain aku suatu (sesuatu) ya…”. Dalam senyumku aku hampir selalu mengiyakan. Sesuatu ini biasanya akan memacuku berpikir untuk membawakan hal-hal yang berbeda setiap harinya. Kalau malas berpikir, aku hanya akan ke pusat belanja sebentar dan mengambil susu monyet (sebutan mereka untuk susu Ultra Kids), coklat kecil, keripik singkong, buku cerita atau alat-alat tulis. Kalau sedang in the mood, aku akan rela berhenti di rumah tetangga untuk minta kembang sepatu. Kembang sepatu ini nantinya akan aku ambil putiknya lalu aku tempelkan di hidungku dan di hidung kedua malaikat kecilku. Nah, sore itu kami pasti akan main boneka pinokio… Atau aku akan minta daun cincau tetangga, membuat campuran remasan daun cincau dengan air dan bermain menjadi penjual/pembeli minyak. Hmmm soreku adalah waktuku untuk bereksperimen dengan semangat baru bersama matahari dan bungaku J
Masih soal Barbie nih. Dalam telepon pagiku, si Bunga memintaku membawakan sesuatu dan ketika kutanya, kali ini sesuatunya adalah Barbie. Ya Allah… kenapa nggak selesai selesai sih cerita Barbie ini… Aku masih tetap dengan alasanku, Barbie nggak pernah mengerjakan PR jadi kamu jangan temenan sama Barbie. Mau tau jawaban Manisku? Dalam lafal balitanya Sekar terdengar yakin. “Ibu, Bebi itu sukanya main telus kalo sole-sole. Nanti sole aku main dulu sama Bebi, abis main aku ajak Bebi keljain PL sama aku ya… Kalo Bebi nggak bisa aku ajalin deh.” Di seberangnya aku hanya bisa tersenyum dan bertekad dalam hati, sore nanti aku akan membawakan sesuatu Barbie untuk Bungaku. Bukan karena aku mulai menyukai pacar si Ken ini, tetapi karena aku ketagihan merasakan senyum kenes anakku. Atau mungkin juga karena aku menghargai usaha kerasnya untuk “mendekatkanku” dengan keinginannya. Oooh Sekar, Ibu sayang kamu…
Saat menulis cerita ini aku sadar-sesadar sadarnya bahwa lambat laun aku mulai “seperti” papa dan mamaku. Tidak bosan-bosannya bercerita tentang anak-anaknya. Kelak dadaku akan lapang jika matahari dan bungaku protes ketika melihat/mendengarku berkisah pada semua orang tentang warna hidupku bersama mereka. Mudah-mudahan tidak terbersit juga di benak mereka untuk melaporkanku ke Komnas HAM Anak karena aku menganiaya mereka… Aku dedikasikan cerita ini untuk papa dan mamaku, karena dari merekalah aku tahu bagaimana rasanya mencinta dan dicinta…
Jakarta, 4 Mei 2006