Archive for May, 2006

MY LIMITATION

Wednesday, May 31st, 2006

Kalimat “Your request is an order to me” baru mulai aku rasakan. Bukan karena terpaksa tapi karena aku melaksanakannya dengan cinta. Ikhlas pada titik pertama sulit dimunculkan karena permintaan yang diutarakan bertentangan dengan kemauan hati kita.

Diawali ketika kami berada di tengah-tengah kejadian yang merupakan kuasa Allah SWT. Menakutkan tetapi mengharuskan aku mengerahkan daya upaya dan pikiran untuk menyelamatkan matahari dan bungaku. Begitu juga ketika melihat kocar kacirnya suasana. Allah tahu betapa paniknya aku, tetapi dunia harus tetap terlihat indah di mata kedua hartaku (diilhami oleh film Life is Beautiful). Aku tahu mereka punya banyak pertanyaan, aku tahu mereka pasti bisa merasakan aroma ketakutan dan derita. Aku tahu itulah sebabnya mereka tidak bernyanyi Twinkle Twinke Little Star seperti biasanya. Untuk merekalah akhirnya aku tetap menepati janji untuk naik becak keliling kota dan bermain di kota lain.

Hari itu aku begitu tenang, malah sempat berpikir mengapa di luarku bereaksi lain (Maafkan aku untuk yang satu ini! Aku menyesal sungguh!). Egois sempat terlontar dari sinar jiwaku, tapi itulah aku ketika itu. Ternyata putus dari dunia informasi bisa juga menguntungkan bisa juga merugikan. Menguntungkan karena setidaknya aku bisa tetap tenang dan tetap berusaha berpikir logis. Merugikan karena aku jadi buta sama sekali dan kurang berempati. Begitu tersambung lagi dengan dunia informasi, begitu aku melihat dan mendengar lagi, baru aku menyadari keterbatasanku. Allah maafkan aku. Beri aku jalan untuk menebus kesalahanku.

Membantu sebisaku menjadi target. Tawaran ada, aku mendaftar, tetapi sinar jiwa meredup tak mengizinkan. Larangan yang begitu indah dan tak pernah merasa lagi sejak beberapa lama, tetapi tetap, keikhlasan pada titik pertama sulit dimunculkan karena lagi-lagi bertentangan dengan kemauan hati. Permintaan terus datang, hati mau beranjak pergi. Sampai detik terakhir sinar jiwa bimbang bertanya apa mauku sebenarnya? Aku mau a u a u a u, tapi tetap kusiapkan perbekalanku semalam (Maafkan aku lagi ya…). Aku berharap, mungkin sinar jiwa bisa meluluh, menerang dan mengizinkan?

Matahari terus bertanya kemana aku akan pergi, bunga tak begitu peduli dan tetap bernyanyi. Semua yang telah rapi tersusun, dikeluarkan tangan matahari. Kususun lagi sambil menerangkan maksud pergiku, tetapi dikeluarkan lagi dengan argumentasi tak terbantah. Terakhir pelukannya erat dan berlinangan air mata. Ibu jangan pergi, nanti tanahnya bergerak lagi. Aku nggak mau ibu pergi, aku nggak mau kalau tanahnya bergerak ibu nggak ada… Sinar jiwa dikuatkan, kututup semuanya dan berdoa semoga Allah SWT senantiasa memberi kekuatan serta kemudahan setelah kesulitan. Kepada yang tertimpa dan teman sukarela, maafkan keterbatasanku. Aku membantu dari jauh dan mendoa…

Sudah ikhlas, 1 Juni 2006

MY FRIENDSHIP

Thursday, May 4th, 2006

Friendship is not about how you get, but how you give

Friendship is not about how you listen, but how you understand

Friendship is not about how you see, but how you feel

Friendship is not about how you let go but how you hold on

(Dari teman baruku, di awal Mei 2006)

Quotes yang bagus! Membacanya membuat aku merasa hidupku sangat beruntung karena memiliki serakan teman-teman yang beraneka ragam di dunia kecilku ini. Beneran! Kututup dan kusimpan quotes tadi dengan senyum kecil, makasih ya…

Pagi ini aku baca lagi quotes itu. Rasanya sederhana tapi nggak juga lho. Ternyata quotes itu harus diaplikasikan bolak balik, minimal 2 arah, membutuhkan sensitivitas perasaan dan redaman egoisme. Berlebihan ya? Hmmm coba ya kita liat…

Friendship is not about how you get, but how you give

Memberi tentu saja yang baik dong… Memberi atau berbagi apa saja dengan teman yang satu untuk menyakiti teman yang lain tentu saja tidak termasuk dalam kategori ini. Proses berbagi yang dramatis (seperti bercerita tentang teman yang lain sambil menangis atau memelas) mungkin juga harus kita kurangi atau bahkan sebaiknya dihilangkan, karena teman yang mendengar pasti akan bingung bersikap. Harus didengarkan sajakah? Harus pakai dipelukkah? Harus aku datangikah yang menyakitinya? Harus bagaimanakah aku? Sebaliknya, kita yang mendengar juga harus jeli karena keragaman itu tadi. Kali ini jujurkah temanku padaku? Haruskah aku mempercayainya? Haruskah aku mengorbankan pertemananku dengan yang lain karena membelanya? Bener kan? Sensitivitas perorangan diperlukan di sini? Hihihi…

Di dunia kecilku, aku pernah berbagi tangis (yang dramatis nih contohnya)… Aku tau kepada teman yang mana aku harus pergi. Sebaiknya tidak lebih dari 2 teman dalam waktu yang bersamaan kali ya… kalau kebanyakan berbagi tangis nanti malah jadi sinetron. Emang kita nggak capek nangis terus? Nggak takut dehidrasi apa? Yang lain pegel juga ngeliatnya lagi… hayo pada ngaku!! Menumpahkan tangis kita bukannya tidak menguras energi teman kita lho. Teman yang baik pasti akan mencurahkan perhatian dan pikirannya untuk menolong kita, meskipun itu hanya dengan sebuah tatapan, genggaman tangan ataupun pelukan (halah halah… ). Oleh sebab itu kita juga harus memilah milah apa yang sebaiknya kita berikan kepada teman-teman kita… Jangan sampai apa yang kita berikan malah menyusahkan teman kita. Pengalamanku, cerita sedih pakai acara menangis itu bisa cepat terangkat kalau kita memang serius mau menyudahinya. Betul tidak?

Friendship is not about how you listen, but how you understand

Mendengarkan saja juga bukan berarti kita tidak menghargai teman kita lho… Ketika salah satu teman kita bercerita banyak dan semakin sulit dimengerti isi serta arahnya, kemauan kita untuk mendengar saja itu sudah patut diacungi 2 jempol lho (atau 4 sekalian?) Hihihi… Kuncinya pinter-pinter baca bahasa tubuh teman kali ya. Kalau teman sudah diam saja, sudah tidak menanggapi, inilah waktunya kita untuk diam dan pergi.

Di dunia kecilku, teman-temanku ternyata banyak mendengar, banyak juga yang mengerti dan banyak cerita beredar yang ditambahi pesan sponsor, “Jangan bilang siapa-siapa ya, hanya kepadamulah aku bercerita”. Di tengah episode, tanpa kita mengerti, cerita bersponsor tadi sudah begitu pesat beredar dan didengar sebagian besar teman kita. Pesanku, jangan terlalu merasa bersalah… kalianlah yang begitu mengerti untuk tidak saling berbicara dan mendengarkan, meskipun tujuannya hanya untuk saling  menyocokkan. Kalian memang terlalu baik…

Friendship is not about how you see, but how you feel

Tapi dari melihat kondisi teman, ketajaman perasaan kita bisa diuji lho. Ada masanya teman kita tidak mau diganggu, mereka tidak mau berbagi cerita, hanya mau sendiri saja. Sebagai teman, kita harus bisa “melihat” keadaan itu. Jika ada teman yang terlihat diam maka sapalah ia seperti matahari pagi menyapanya. Jika yang kaudapat hanya jawaban sekedarnya, diam dan tidak berubah sampai beberapa saat. Lihat dengan hatimu, beri dia ruang dan percayalah bahwa dia masih menyayangimu dengan caranya. Yang namanya teman, entah kapan waktunya, dia pasti merindukan dan menghampiri kembali. Tetaplah berusaha menyapanya sesetia matahari pagi, lihat keadaannya dengan mata hatimu dan turuti kemana hatimu mengajakmu berlaku…

Friendship is not about how you let go but how you hold on

Lah kalau dia pergi untuk kebaikannya dan kebaikan kita? Masa’ nggak boleh sih? Berteman itu adalah tentang meredam egoisme juga kan? Terkadang ada nih ragam teman yang kerjanya memaksa kita memancarkan aura negatif terus, memaksa kita berburuk sangka pada teman yang lain, memaksa kita mendengarkan hal-hal yang aneh,  yang secara nalar juga udah nggak masuk akal. Masa’ teman yang seperti ini nggak boleh pergi? Justru dengan membiarkannya pergi, kita bisa kembali memelihara hati, pikiran dan laku dalam berteman. Justru dengan membiarkannya pergi (dan jangan kembali) bisa membuat kita mengenangnya sebagai “kerikil” dalam persahabatan kita di dunia kecil ini. Dari keberadaannya juga aku jadi tahu, siapa saja temanku yang bisa memberikan service pelukan ketika kita berkeluh kesah, hahaha piss ah! Serius nih, temanku yang telah pergi tadi memaksa kita belajar tentang keragaman teman, kejujuran, kepercayaan dan kesetiaan di dunia kecil kita…

Teman, dunia kecil kita ini memang hutan. Hutan yang memiliki keragaman biologis yang tinggi, tempat yang punya kemampuan mencegah terjadinya erosi akibat kecepatan dan kesimpangsiuran berita dan yang pasti, hutan ini adalah rumah yang kita cintai. Hutan yang kita punya ini begitu melindungi dan membiarkan semua penghuninya berinteraksi di dalam suatu harmoni, termasuk membiarkan salah satunya pergi demi kelangsungan cerita hutan abadi…

Untuk semua penghuni hutan di dunia kecilku, I love you…

Jakarta, 5 Mei 2006

MY UNIVERSE

Thursday, May 4th, 2006

Masih melekat jelas mukaku yang tertekuk dalam, ketika mendengar salah satu atau kedua orang tuaku bertukar cerita tentang anak-anaknya kepada siapa saja. Males deh… menurutku itu adalah masa-masa penyiksaanku, bukan dengan pukulan, hinaan dan cercaan tetapi cerita-cerita keseharianku yang menurutku sama sekali nggak menarik dan banyak yang memalukan! Coba waktu itu Komnas HAM Anak udah ada ya… pasti Kak Seto akan tersenyum simpul mendengar semua laporanku atau malah masuk TV? Hmmm…

Puluhan tahun berlalu dan sekarang rodaku sedang menempatkan aku sebagai seorang ibu. Betapa aku menikmati kehidupanku sebagai seorang ibu dengan segala suka, suka, suka dan sukanya :)… Alhamdulillah, aku dikaruniai dua malaikat kecil, Bagaskoro dan Sekar, yang setiap detik hidupnya memberikan warna pada hidupku.

Ada tulisan yang aku sadur, aku revisi sesuai kebutuhanku dan aku setujui mentah-mentah. Maaf aku belum menyebutkan siapa penulisnya. Tetapi jika di kemudian hari aku menemukan siapa yang merangkai kata-kata indah ini, aku berjanji untuk untuk mencantumkannya di sini. Beneran!

Bagaskoro dan Sekar,
Kalian adalah gemerlap bintang di malam hari.
Bukan! Kalian lebih dari itu.
Kalian adalah pendar bulan di angkasa.
Bukan! Kalian lebih dari itu.
Kalian adalah benderang mentari setiap waktu.
Bukan! Kalian lebih dari itu.
Ternyata kalian adalah ringkasan semesta
Itu saja!

Tidak ada bosan rasanya menceritakan semua tingkah polah mereka sehari-hari. Teman-temanku adalah sasaran yang paling strategis untuk kubagi cerita tentang “ringkasan semestaku”.

Matahariku ini meskipun keliatannya keras, gagah perkasa dan nggak bisa diam (maaf ya, kecapku selalu yang nomer satu…), hatinya melo uwo uwo banget. Sudah 4 kali ulang tahunnya, aku selalu bertanya, “Kamu mau apa dari Ibu?” Dia selalu konsisten menjawab, “Aku mau keleta-keletaan (kereta-keretaan) sama mobil lemot (mobil remote)”. Hanya itu yang dia mau. Baru tahun ini aku masukkan (dengan sedikit memaksa) pilihan tenda supaya dia tambah senang melakukan kegiatan di luar rumah. Biasanya aku hanya akan mengabulkan satu saja permintaannya dan pilihannya akan terus berganti-ganti sampai mendekati hari H. Hari ini dia ingin kereta-keretaan, sejam kemudian diralat ingin mobil remote. Besok dia mau mobil remote, besoknya mobil remote, dan kereta dan mobil remote dan seterusnya. Termasuk penyiksakah aku kalau aku menikmati kegalauannya dalam menentukan pilihannya? Aku menikmati kerutan wajahnya ketika dia berpikir, aku menikmati caranya mengetuk-ngetukkan jari di dagunya, aku menikmati matanya yang berbinar ketika menyampaikan pilihannya dan aku menikmati semuanya sehingga aku selalu mulai menyampaikan pilihan itu dua minggu sebelum hari ulang tahunnya tiba. Termasuk penyiksakah aku? :)

Beberapa bulan yang lalu, Matahari kecilku ini mogok “sekolah”. Kalang kabut dong… secara “sekolah”nya pake duit getooo… kalo bayarnya boleh pake jagung atau papaya, mungkin reaksiku akan lain, mungkin… Aku coba tanya dengan berbagai cara, jawabannya masih hanya “aku cuma nggak mau”. Lama-lama keluarlah sedikit demi sedikit apa yang dirasakannya, termasuk mang ojek-nya yang suka telat jemput dan sekolahnya yang panas (nak, nak… di mana sih di Jakarta ini yang nggak panas?). Oke, tetapi aku belum menyerah, menurutku ini masih alasan yang (biasanya) bisa aku negosiasikan dengannya. Suatu malam setelah melihat bintang dan bulan di teras belakang rumahku, sekali lagi aku berusaha bertanya (nyecer lebih tepat kali ya…) kenapa dia enggan sekolah. Jawabannya cukup bikin aku mewek. Aku mau sekolah kalau Kakung (papaku) udah pulang dari surga. Aku pengen ketemu Kakung sebentar aja. Kan waktu Kakung meninggal aku belum sempat bilang aku sayang Kakung. Aku nggak mau kalau Kakung pulang aku pas sedang di sekolah. Aku menyerah lunglai deh… Ooo Bagas, Ibu sayang kamu, Nak… Termasuk lemahkah aku kalau kali ini aku menghargai pilihannya untuk “istirahat” sebentar dari kegiatan bersekolah?

Lain lagi dengan Bungaku. Menurutku dia begitu “keibuan” sama seperti ibunya deh (woo… yang kenal aku dilarang protes ya!). Senengnya ngaca dan pakai rok, kenes (centil), banyak bicara, pinter (sekali lagi maaf ya, kayaknya semua kecapku nomer satu dah) dan yang paling aku nggak tahan, dia pengen banget punya boneka Barbie. Aku? Aku sama sekali nggak bisa tertarik dengan Barbie, apapun kondisinya. Bukannya aku melarang orang lain untuk memiliki dan menghabiskan waktu mereka dengan boneka sexy itu ya… Aku hanya mencoba “meng-akukan” Bunga kecilku… Aku coba berbagai cara untuk menghalangi keinginannya memiliki boneka Barbie dengan berbagai alasan. Salah satu alasanku padanya, Barbie itu nggak suka bikin PR (Pekerjaan Rumah). Senengnya bikin kamu ganti-gantiin bajunya aja. Ibu nggak mau kamu ikut-ikutan nggak bikin PR. Di umurnya yang belum cukup 3 tahun, ternyata dia senang mengerjakan PR dari “sekolahnya”. Nyontoh ibunya lagi nih, hihihi… Itulah sebabnya aku merasa pendapatku akan lebih bisa diterima olehnya. Setelah mendengarkan alasanku, biasanya Bungaku akan bertolak pinggang, memajukan bibir mungilnya sedikit, berbalik menjauhiku sambil berkata, “Pusing aku pusing dengelin Ibu…”. Lagi-lagi aku menikmati kelakuan malaikat kecilku…

Seperti biasa aku selalu menelepon mereka sesampainya aku di kantor. Bukan untuk mengurangi rasa bersalahku karena aku bekerja di luar rumah dan meninggalkan mereka lho… Aku hanya ingin memastikan pesan “Ibu sayang kamu”ku hari ini sampai di telinga mereka. Biasanya mereka (Bungaku sih yang lebih sering) akan berkata, “Nanti kalau Ibu pulang bawain aku suatu (sesuatu) ya…”. Dalam senyumku aku hampir selalu mengiyakan. Sesuatu ini biasanya akan memacuku berpikir untuk membawakan hal-hal yang berbeda setiap harinya. Kalau malas berpikir, aku hanya akan ke pusat belanja sebentar dan mengambil susu monyet (sebutan mereka untuk susu Ultra Kids), coklat kecil, keripik singkong, buku cerita atau alat-alat tulis. Kalau sedang in the mood, aku akan rela berhenti di rumah tetangga untuk minta kembang sepatu. Kembang sepatu ini nantinya akan aku ambil putiknya lalu aku tempelkan di hidungku dan di hidung kedua malaikat kecilku. Nah, sore itu kami pasti akan main boneka pinokio… Atau aku akan minta daun cincau tetangga, membuat campuran remasan daun cincau dengan air dan bermain menjadi penjual/pembeli minyak. Hmmm soreku adalah waktuku untuk bereksperimen dengan semangat baru bersama matahari dan bungaku J

Masih soal Barbie nih. Dalam telepon pagiku, si Bunga memintaku membawakan sesuatu dan ketika kutanya, kali ini sesuatunya adalah Barbie. Ya Allah… kenapa nggak selesai selesai sih cerita Barbie ini… Aku masih tetap dengan alasanku, Barbie nggak pernah mengerjakan PR jadi kamu jangan temenan sama Barbie. Mau tau jawaban Manisku? Dalam lafal balitanya Sekar terdengar yakin. “Ibu, Bebi itu sukanya main telus kalo sole-sole. Nanti sole aku main dulu sama Bebi, abis main aku ajak Bebi keljain PL sama aku ya… Kalo Bebi nggak bisa aku ajalin deh.” Di seberangnya aku hanya bisa tersenyum dan bertekad dalam hati, sore nanti aku akan membawakan sesuatu Barbie untuk Bungaku. Bukan karena aku mulai menyukai pacar si Ken ini, tetapi karena aku ketagihan merasakan senyum kenes anakku. Atau mungkin juga karena aku menghargai usaha kerasnya untuk “mendekatkanku” dengan keinginannya. Oooh Sekar, Ibu sayang kamu…

Saat menulis cerita ini aku sadar-sesadar sadarnya bahwa lambat laun aku mulai “seperti” papa dan mamaku. Tidak bosan-bosannya bercerita tentang anak-anaknya. Kelak dadaku akan lapang jika matahari dan bungaku protes ketika melihat/mendengarku berkisah pada semua orang tentang warna hidupku bersama mereka. Mudah-mudahan tidak terbersit juga di benak mereka untuk melaporkanku ke Komnas HAM Anak karena aku menganiaya mereka… Aku dedikasikan cerita ini untuk papa dan mamaku, karena dari merekalah aku tahu bagaimana rasanya mencinta dan dicinta…

Jakarta, 4 Mei 2006