HAMPIR SETAHUN… (2)
Wednesday, August 30th, 2006“Hati-hati di Bandung, papa belum bisa mengantar. Nggak usah ikut macam-macam demo kalau masih ingin papa kerja terus. Tugas mbak kuliah. Ingat itu”. Duh duh duh… abis dikasih tahu begini, kita jawabnya apa ya? Siap komandan! Gitu? Hehehe… Awalnya nggak bisa nganter, lama-lama ada kabar kalau Bapak asal Tanjung Karambi Payakumbuh ini suka bentol-bentol menjelang akhir pekan. Denger-denger sembuhnya kalau habis inspeksi mendadak (sidak) ke Jatinangor.
Jaman dulu yang paling rajin menulis surat ya beliau ini. Surat? Hihihi… iya banget! Ceritanya macam-macam. Mulai dari anak perempuan satunya yang nggak boleh jauh lagi darinya, suasana di rumah yang sudah mulai sepi, kegiatannya muter-muter Jakarta, sampai tuduhan korupsi Rp 180.000 (Seratus delapan puluh ribu rupiah) yang notabene nggak masuk akal untuk orang sepertinya. Cerita juga karena itu, jabatan beliau digeser di bidang biologi nuklir dan kimia. Sama sekali jauh dari bidang yang digelutinya selama ini. Pertamanya sih sedih. Gila aja, nama baik dan harga diri lho… Kalau memang korupsi, kenapa cuma segitu ya? Sekalian yang banyak aja ya… Biar aku kecipratan hidup senang di Jatinangor. Positifnya, aku dan papa jadi sering berdiskusi terutama soal biologi dan kimia. Menambah kedekatan karena akhirnya aku yang harus bolak balik mengalah pulang ke Jakarta.
“Neng, neng. Eta aya anu ngantosan di luhur tah. Rame neng katingalina”. Nggak pernah lupa nih, suatu waktu di gedung Biologi Pak Nandang keliatan buru-buru ngasih tahu ada tamu menunggu. Hah siapa ya? Tumben-tumben amat. Jangan-jangan ada yang sedang bolos kuliah dan berkunjung ke Jatinangor… Eh tapi mana mungkin? Lampu Lang Ling Lung yang tadi sempet nyala, meletus. Tahunya di mobil kijang ada papa, mama, gaek, nenek, mbah, etek, adek dan satu sepupu. Astaga… dijemput pula sekarang? Yang kagak-kagak aja sih… Sabar aja nunggu di tempat kos kenapa? Alasannya gaek dan nenek mau cepat-cepat ketemu. Sebenernya gaek dan nenek apa papa???
Masih terekam jelas besar cintanya ketika tangan-tangan besarnya menyisir rambutku, memasangkan pita, membuatkan tumis toge dan sawi putih saat mama tugas atau menjenguk tanah Jawa sebentar. Masih teringat jelas bagaimana hangat belainya, ciuman dan tusukan kumisnya di pipiku, kasar tangannya dan gelegar suaranya. Rasanya baru bulan lalu dia mengajariku mengemudi dan melarangku ngebut. Rasanya baru minggu lalu aku masih tidur di perut gendutnya dan bercerita tentang hari-hari hidupku. Rasanya baru kemarin aku menggenggam erat tangannya dan melepasnya pergi… Eh ternyata sudah hampir setahun papa tak lagi bersamaku…
Tuhan tolonglah sampaikan sejuta sayangku untuknya
Ku terus berjanji tak kan khianati pinta nya
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya ku mencintaimu
Kan ku buktikan kumampu penuhi mau mu
Andaikan detik itu kan bergulir kembali
Ku rindukan suasana basuh jiwaku
Membahagiakan aku yang haus akan kasih dan sayangmu
Tuk wujudkan segala sesuatu yang pernah terlewati
Salah satu teman baikku menyarankan aku menganggap papa sedang pergi bertugas di suatu tempat yang jauh. Nggak ada email, nggak ada telepon, dan nggak ada orang yang bisa dititipin surat untuk berkabar kepadaku. Sementara cukup membantu sih tapi malam ini aku mengingat, teman baikku nggak menyebutkan di tempat papa “berlibur” itu nggak ada telegram kan? Teman-teman seangkatanku pasti masih ingat telegram. Hmmm… seandainya telegram itu masih ada, aku akan kirimkan telegram terindah yang mereka punya untuk papaku tersayang. Supaya papa paham maksudku dan nggak mahal karena kebanyakan kata, isinya apa ya? Begini nih enaknya: Papa, apa khabar? Aku selalu merindu di hati. Nggak akan habis. Sederhana, jelas dan ekonomis!
Thanks to:
- Ada Band, aku nyontek bulat-bulat lagunya
- DBA untuk filosofinya J