MATAHARI (kok) BULAT BUNDAR?
Wednesday, April 11th, 2007Kerasa bener nggak enak punya anak dengan berat badan di bawah standar. Meskipun sehat dan lincah, tetep aja ada kesan ibunya nggak ngurusin (kaliii) … Sama seperti matahariku, lahir lumayan kempluk, eh pas mulai jalan keliatan deh kurusnya. Bukan sekedar kurus tapi kurus banget. Duh duh duh… sampe suka trauma kalo nganter matahari sakitku ke dokter. Abis nimbang ato pas ngasih obat pasti dokternya menyinggung soal berat badan, daya upaya untuk mengatasinya sama tes-tes yang bisa dilakukan untuk melihat ada kelainan atau nggak. Ibunya pasti tertunduk dalam, nggak bisa celingukan :<
Lain batu lain karang, lain dulu lain sekarang. Yang namanya matahari sekarang bulat bundar berdagu 2 berkaki seperti pemukul bedug. Dulu sedih karena anaknya kurus, sekarang (agak) sedih karena dituduh membiarkan anak makan tanpa kendali. Susah juga ya hidup ini? Hihihi…
Matahari bulat bundar ini adalah matahariku. Setelah kurus yang berkepanjangan, sekarang aku sedang menikmati masa-masa dilahapnya sate padang yang pedes tapi enak, rendang yang bikin matahari minum terus, telur yang mata sapinya sepasang, juga susu yang kayak air putih… Rasanya nggak sia-sia menyiapkan semuanya untuk buah hati tercinta…
Biarlah sekarang matahariku sedikit bulat bundar. Biarlah dagunya dua setengah. Biarlah kamu menikmati semua yang sehat-sehat itu, seperti ibu menikmati antusiasmu, nak! Nanti kalo sudah waktunya tiba, kita atur jadwal basket atau voli atau badminton sama-sama ya… Kamu yang olahraga sama teman-temanmu, ibu yang nonton. Atau kamu mau ajak ibu olahraga juga? Ibu pasti perlu karena tulang dan daging ibu akan bertambah usia tetapi harus tetap digerakkan. Sekalian kan kita bisa saling menemani… J
April 11, 2007
Ibu yang (menikmati) punya matahari bulat bundar…