Archive for October, 2008

Yang Mencerahkan…

Sunday, October 26th, 2008

 

Konsumen jalan tol seiprit setelah Kampung Rambutan sebelum tol dalam kota pasti ingat ada Bapak penjaga pintu yang selalu semangat. Tidak banyak yang dilakukannya dalam 10 detik perjumpaan kami. Paling mengucapkan, “Selamat pagi, Bu…” Mengambil uang dan mengembalikan jika perlu, lalu tersenyum dan tak lupa selalu, “Terima kasih, bu… hati-hati di jalan ya”…

Sederhana tetapi menyemangati. Menambah energi untuk menghadapi hari. Rasanya tiap pagi selalu ingin melewati pintu yang dijaga Bapak ini. Dari jauh sudah tebak tebak buah manggis. Pintu mana yang ada si Bapak ceria…

Pagi ini aku lewat tol TB Simatupang lagi… harap-harap cemas, milih milih, akhirnya aku masuk pintu ketiga. Alhamdulillah… meskipun suaranya melemah, tapi sapaan selamat pagi tak pernah lupa. Aku sempat melirik papan namanya. Ooo ternyata namanya Pak Sarjono (semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya)…

Dengan cara yang sederhana dan tidak menyusahkan siapapun, kita juga bisa mencerahkan siapa saja, seperti Pak Sarjono. Selamat pagi juga, Pak…

Rindu_Indonesia_Jaman_Dulu, 31Oct2008 ~ 23.55

BERSATU KITA TEGUH

Tuesday, October 21st, 2008

 

Tempat kerjaku habis “dibombardir”. Alhamdulillah meskipun berdarah-darah berurai air mata, semua awak Indonesianya masih (cie cie cie…) tegar berdiri dan saling berpegangan tangan. Pasti bukan dalam arti sebenarnya dong. Bukan muhrim… bukan muhrim… Terus jadi ingat juga pepatah yang bilang: sesuatu yang tidak membuatmu mati, akan menjadikanmu semakin kuat. Amiiinnn…

 

Orang dulu bilang: tak ada gading yang tak retak. Artinya semua yang ada di dunia ini tidaklah sempurna. Meskipun demikian, yang namanya berbohong untuk menutupi ketidaksempurnaan itu ndak boleh juga, Bu… apalagi buat popularitas diri sendiri. Masih mending kalo bohongnya untuk menyelamatkan diri sendiri. Nah kalau menyakiti orang lain? Saudara sendiri? Weleh weleh weleh… Wewenang untuk memanggil, bertanya sampai menghukum punya. Mbok ya digunakan… Kasih tahu apa yang seharusnya dilakukan. Kalau bingung mau ngasih tahu apa, panggil! Duduk bersama dan bicara. Negara ini lebih beradab kok daripada hanya meneriakkan kalimat kojo: usir, tutup, ganyang. Hiii… kayak jaman apaan ajah.

 

Ngomong-ngomong soal berimbang. Yang namanya berita itu susah juga diseimbangkan. Udah ngomong berbusa-busa, tetep aja ada yang keplintir. Mungkin sengaja, mungkin juga DDR alias daya dong rendah. Selalu ada kepentingan-kepentingan yang menyertai. Banyak! ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan bahkan SARA. Tidak usah ada yang memikirkan perasaan pegawai kantorku dengan berita dan omongan seenaknya. Kami semua bisa saling SMS, saling bertelepon, saling berbagi ketidakseimbangan, kesakitan dan tetap berpegangan tangan. Akhir-akhir ini adalah tertawa-tertawa kecil sebagai hiburan. Giliran ditangkap dan diadili, situ nangis. Bilang berita tak berimbang. Bilang ahli telematika berbohong. Giliran kena kasus susu, situ bilang berita nggak berimbang dan menyudutkan. Well, pembalasan itu memang nggak selalu harus menunggu kiamat juga… rasakan! Hihihihihihihihi (ketawa kuntilanak Indonesia ya…)

 

Mengganggu kedaulatan negara? Tidak memberikan informasi yang benar tentang kegiatan kantor kepada masyarakat Indonesia? Waduh! Sumpah Bu… nggak pernah terlintas dalam pikiran, perkataan dan perbuatan. Dulunya teman-teman sekantor ini aktif ikutan Pramuka, PMR, Paskibra, pertukaran pelajar, juara lomba pidato, juara kelas, ketua senat, tidak pernah pakai obat terlarang, anak tentara binaan orde baru, anak veteran, selalu ikutan upacara di hari Senin pagi. Ya meskipun telat-telat dikit sih… 

 

Beberapa dari kami ada juga yang pernah nakal-nakal ABG gitu. Naik motor kebut-kebutan, trus jatuh keseret masuk kolong truk yang lagi jalan. Motornya dekok trus ditutupin pakai lap biar orang tua nggak tahu. Ada juga sih… tetapi nggak pernah terlintas kami akan menghianati negara ini, meskipun bendera tempat kami bekerja ditaburi bintang-bintang dan lurik-lurik. Nggak pernah! Cuma memang sayangnya nggak ada yang lulus waktu ujian jadi PNS, jadi di sinilah sekarang tempat kami mengabdi…

 

Selalu mengharap yang terbaik,

Jakarta 21 Oktober 2008 ~ 20.51 WIB