TEMAN SETIAKU (harus) PERGI

April 10th, 2007 by lia-sunflower

Salah satu teman yang setia menemaniku akhirnya terpaksa harus Sebulan kurelakan pergi. Ya iyalah da udah dibayar orang, hihihi… Sedih juga sih. Ternyata ada juga ya rasa keterikatan sama si teman ini… Cukup dalam…

Enam tahun sebelum kamu pergi, aku nabung-nabung senabung-nabungnya karena ngiler ngeliat gagah gaya putihmu. Dibela-belaan madeg mantep melu wong tuwo ke mana-mana biar ngirit, hahaha… Alhamdulillah kebeli juga J

Selama enam tahun, udah gegayaan dan keenakan dianter ke mana-mana sama kamu. Banyak kenangan makan-makan sama jalan-jalan nyasar yang kita lalui ya… Hahaha aku pasti rindu!

Sebulan sebelum kamu pergi, kita bener-bener off road ya. Nyari satu desa yang katanya keren abis. Emang keren abis sih dan seneng juga karena itu kenangan indah terakhir kita ya…

Sehari sebelum kamu pergi, kita ke salon bareng ya… Fiuh abis dari salon kamu keliatan cuantik banget. Putihnya semakin putih, kilatnya semakin mengkilat. Pantesan banyak yang naksir kamu… Eit, aku juga selalu naksir kamu lho dan aku masih juga menyimpan cintaku untukmu… sampe sekarang…

Sejam sebelum kamu pergi, kita berfoto ria ya… dari berbagai arah sesuai dengan pesanan. Bener-bener sadar kalo kamu memang baik. Menemani aku susah dan senang. Hihihi jadi inget waktu tiba-tiba rodamu berasap dan berbau. Panik sih pastinya tapi tetap indah untuk dikenang. Inget juga waktu beramai-ramai kamu mesti didorong. Yang mendorong ketawa-ketawa (meskipun pas ngedorong celingukan juga takut ada yang kenal, hihihi hayo ngaku!!!) dan kamu nganter kita lagi pergi ke mana-mana.

Sedetik sebelum kamu pergi, ada air mataku yang menetes. Ternyata aku sayang kamu banget. Terima kasih ya udah menemani aku dan kita selama ini. Kamu di hatiku, selalu… Hmmm, busway I am coming? J

KETIKA CINTA TAK SESUAI …

September 12th, 2006 by lia-sunflower

Jam 15.01, waktunya buka FS. Tengok tengok My Messages ada beberapa pesan masuk. Eh ada teman baru. Rana: has sent you a smile. Buka aaahhh… Isinya perkenalan biasa, dia hanya inginku jadi teman untuk mendengar/bercerita dan dari awal sudah menegaskan tidak mau dimunculkan profilnya di jejeran teman-temanku. Idih mau temenan aja syaratnya banyak amat! tapi okelah, terserah… Jadi inget jaman dulu ya? Sahabat pena gitu… atau malah terapist yang tugasnya cuma mendengarkan? tapi itu kan dibayar? Hehehe apa aja dah…

Komunikasi tertulis sudah berlangsung beberapa bulan. Katanya si Rana itu perempuan lajang seusiaku. Ceritanya banyak, seru dan romantis. Hahaha secara kita perlu cerita-cerita romantis juga, jadi klop dah aku jadi penikmat tulisannya yang baik. Eh tapi kalo dihitung-hitung kebanyakan ceritanya berkisah tentang pria pujaan pencuri hatinya. Aku panggil dia Pirates of Her Heart (PHH) aja ya Ran. Biar lain dari yang lain ;p…

Rana jatuh cinta. Perjalanan kisah dengan bling-bling, cring-cring dan sring-sring sempat kurekam. Awalnya menuai protesnya tapi akhirnya menyerah tanpa syarat. Hahaha… Maaf ya Ran. Habis cerita kamu bagus, manusiawi. Aku takut lupa… Di setiap ceritanya, tak banyak juga komentar yang bisa kuberikan. Dunianya jauh berbeda dengan duniaku.

Rana yang kukenal dari tulisannya ternyata begitu lugas, begitu berani bertindak, begitu berani melangkah dan kali ini Rana terpeleset. Suatu waktu bulannya terlambat datang. PHH-nya harap-harap cemas. Cuplikan pembicaraannya dengan si PHH terkesan bijak. Bijak beneran atau terpaksa ya? Kepada sang pujaan Rana tegar berkata, "Apapun yang terjadi, tak akan terlintas untuk mengganggu pujaan hati dan keluarganya". Halah halah… ternyata… kok bisa ya?

PHH mengalihkan materi dan berharap mudah-mudahan yang ditunggu cepat berlabuh. Kapal kaliii… Ran Ran, bagaimana jika bulanmu tak datang hingga 9 bulan ke depan? Apa kata keluargamu? Apa yang akan kau lakukan? Aku akhirnya tak tahan tanya bererot. Tak ada dosa yang coba aku bicarakan. Itu urusan kalian. Sekian lama tanyaku tak terjawab :(

Pesan balasan datang akhirnya. Rana "menangis" keras. Sang PHH mengajaknya memastikan apa yang terjadi. Rana enggan, malah menantang. Seandainya benar bulannya tak datang hingga 9 purnama ke depan, apa yang akan dilakukan sang pujaan? Loh Ran, itu kan sebagian dari pertanyaanku? Ringan laki-laki itu menjawab, "Aku punya keluarga. Mereka membutuhkanku, begitu juga aku. Tolong gagalkan kehadirannya." Sudah kutebak! Solusi cepat!

Yang tak tertebak justru jawaban si Rana kepleset. Rana akhirnya mau memastikan apa yang terjadi dengan dirinya. Bahkan mau menuruti apa yang diinginkan kekasihnya. Napasku berhenti dan berdebar membaca kelanjutannya. Rana setuju melakukan keinginan laki-laki pembajak itu dengan satu syarat: Rana ingin ditinggalkan. Rana tidak ingin berhubungan dengan si pembajak hati dalam bentuk apapun. Loh, koq ajaib? Rana sadar dosanya sedang bertambah, meski tak pernah dibahas. Rana hanya ingin menyelamatkan keluarga pujaan hatinya, meskipun tetap ada yang dikorbankan. Aku diam meskipun heran… Penyelesaian yang tidak lazim mungkin, tapi aku berdoa untuknya.

Hari ini ada pesan lagi dari Rana menghilang. Subyeknya: Hai! Subyek yang cukup ceria keliatannya. Rana bertutur bulannya sudah datang meski sempat 2 minggu telat. Ternyata tidak ada yang tumbuh di rahimnya. Hanya ada sedikit sumbatan dan sudah diatasi dengan baik. Khabar pria pujaan sempat kutanya. Rana ternyata meninggalkannya setelah kerikil bulan terlambat tempo hari. Cinta yang mengorbankan keluarga adalah cinta yang mengorbankan segalanya. Terlalu banyak yang hilang (Doolen, sekitar 2000-2001).

Rana sadar cintanya tak sesuai dengan harapan. Cintanya tidak mendukung kenyataan. Cintanya salah letak. Rana juga sadar, terjerembab sekali bukan berarti harus terpuruk berlama-lama. Rana yang sempat ternoda siap bersimpuh dan menunggu ampunan di Ramadhan depan.

Dari Utama kamar depan, 12Sept06, 01.30

Ran, add friend-ku udah kau approve kah? :)                                        

HAMPIR SETAHUN… (2)

August 30th, 2006 by lia-sunflower

“Hati-hati di Bandung, papa belum bisa mengantar. Nggak usah ikut macam-macam demo kalau masih ingin papa kerja terus. Tugas mbak kuliah. Ingat itu”. Duh duh duh… abis dikasih tahu begini, kita jawabnya apa ya? Siap komandan! Gitu? Hehehe… Awalnya nggak bisa nganter, lama-lama ada kabar kalau Bapak asal Tanjung Karambi Payakumbuh ini suka bentol-bentol menjelang akhir pekan. Denger-denger sembuhnya kalau habis inspeksi mendadak (sidak) ke Jatinangor.

Jaman dulu yang paling rajin menulis surat ya beliau ini. Surat? Hihihi… iya banget! Ceritanya macam-macam. Mulai dari anak perempuan satunya yang nggak boleh jauh lagi darinya, suasana di rumah yang sudah mulai sepi, kegiatannya muter-muter Jakarta, sampai tuduhan korupsi Rp 180.000 (Seratus delapan puluh ribu rupiah) yang notabene nggak masuk akal untuk orang sepertinya. Cerita juga karena itu, jabatan beliau digeser di bidang biologi nuklir dan kimia. Sama sekali jauh dari bidang yang digelutinya selama ini. Pertamanya sih sedih. Gila aja, nama baik dan harga diri lho… Kalau memang korupsi, kenapa cuma segitu ya? Sekalian yang banyak aja ya… Biar aku kecipratan hidup senang di Jatinangor. Positifnya, aku dan papa jadi sering berdiskusi terutama soal biologi dan kimia. Menambah kedekatan karena akhirnya aku yang harus bolak balik mengalah pulang ke Jakarta.

“Neng, neng. Eta aya anu ngantosan di luhur tah. Rame neng katingalina”. Nggak pernah lupa nih, suatu waktu di gedung Biologi Pak Nandang keliatan buru-buru ngasih tahu ada tamu menunggu. Hah siapa ya? Tumben-tumben amat. Jangan-jangan ada yang sedang bolos kuliah dan berkunjung ke Jatinangor… Eh tapi mana mungkin? Lampu Lang Ling Lung yang tadi sempet nyala, meletus. Tahunya di mobil kijang ada papa, mama, gaek, nenek, mbah, etek, adek dan satu sepupu. Astaga… dijemput pula sekarang? Yang kagak-kagak aja sih… Sabar aja nunggu di tempat kos kenapa? Alasannya gaek dan nenek mau cepat-cepat ketemu. Sebenernya gaek dan nenek apa papa???

Masih terekam jelas besar cintanya ketika tangan-tangan besarnya menyisir rambutku, memasangkan pita, membuatkan tumis toge dan sawi putih saat mama tugas atau menjenguk tanah Jawa sebentar. Masih teringat jelas bagaimana hangat belainya, ciuman dan tusukan kumisnya di pipiku, kasar tangannya dan gelegar suaranya. Rasanya baru bulan lalu dia mengajariku mengemudi dan melarangku ngebut. Rasanya baru minggu lalu aku masih tidur di perut gendutnya dan bercerita tentang hari-hari hidupku. Rasanya baru kemarin aku menggenggam erat tangannya dan melepasnya pergi… Eh ternyata sudah hampir setahun papa tak lagi bersamaku…

Tuhan tolonglah sampaikan sejuta sayangku untuknya

Ku terus berjanji tak kan khianati pinta nya

Ayah dengarlah betapa sesungguhnya ku mencintaimu

Kan ku buktikan kumampu penuhi mau mu

Andaikan detik itu kan bergulir kembali

Ku rindukan suasana basuh jiwaku

Membahagiakan aku yang haus akan kasih dan sayangmu

Tuk wujudkan segala sesuatu yang pernah terlewati

Salah satu teman baikku menyarankan aku menganggap papa sedang pergi bertugas di suatu tempat yang jauh. Nggak ada email, nggak ada telepon, dan nggak ada orang yang bisa dititipin surat untuk berkabar kepadaku. Sementara cukup membantu sih tapi malam ini aku mengingat, teman baikku nggak menyebutkan di tempat papa “berlibur” itu nggak ada telegram kan? Teman-teman seangkatanku pasti masih ingat telegram. Hmmm… seandainya telegram itu masih ada, aku akan kirimkan telegram terindah yang mereka punya untuk papaku tersayang. Supaya papa paham maksudku dan nggak mahal karena kebanyakan kata, isinya apa ya? Begini nih enaknya: Papa, apa khabar? Aku selalu merindu di hati. Nggak akan habis. Sederhana, jelas dan ekonomis!

Thanks to:

- Ada Band, aku nyontek bulat-bulat lagunya

- DBA untuk filosofinya J

HAMPIR SETAHUN… (1)

August 30th, 2006 by lia-sunflower

Teringat masa kecilku, kau peluk dan kau manja

Indahnya saat itu, buatku melambung

Disisimu tergiang, hangat nafas segar harum tubuhmu

Kau tuturkan segala mimpi-mimpi serta harapanmu

“Lain kali kalo perlu apa-apa untuk sekolah bilangnya jam 12 malem sekalian”. Masih terngiang jelas suara sang perwira pengawas kota di depan anak perempuannya yang perlu pensil warna. Jam 9 malam mulai beranjak, tugas malam ikut menjaga kota yang sedang siaga satu mulai memanggil. Disambarnya kunci motor Honda dinasnya. Si empunya wajah sangar berkumis dan kerap mahal senyum itu segera hilang ditelan gelap. Anak perempuannya? Cengengesan tenang. Yakin 95% dingin malam dan siaga satu pasti tidak akan menghalangi sang pawas menghadirkan pensil warna di meja belajar anaknya.

“Nak, nanti pulangnya tolong anak Bapak diantarkan lagi sampai rumah ya. Jangan boleh diantar orang lain lho. Kan Bapak hapalnya sama kamu. Tolong juga jangan lebih dari jam 9 malam”. Suaranya sih biasa aja, tapi anak perempuannya ingin lekas bergegas. Malu nih malu… Apa kata penjemput ya? Ah terserah ah… yang penting mood papa sedang okeh, exit permit keluar dan kita bisa bersenang-senang di ulang tahun teman.

Tahu dong sifat undangan… Katanya sih pesta mulai jam 7 malem, kenyataannya sering pesta dimulai baru jam 8.30 malam. Masa’ jam 9-nya kita udah harus di rumah? Hadoh hadoh… gak gaul amat sih babeh? Ketebak dong apa yang sering terjadi? Hampir selalu telat pulang dari jam malam yang ditentukan sepihak, exit permit keluar semakin ketat, teman pengantar agak-agak diinterogasi dan Seninnya kita jadi bulan-bulanan anak-anak satu sekolahan. Sebel deh… Besok besok boleh saja ada teman yang ulang tahun. Kalau perlu diantarlah si anak perempuan. Kalau memang sedang tidak ada tugas, hmmm bolehlah ditungguin sekalian. Enaknya ya, jam malam jadi sedikit lebih longgar. Nggak enaknya? Hahaha banyak!!! Jadi mendingan dijemput temen tapi pulang jam 9 ato ditungguin tapi nggak bebas? Hahaha nggak tau…

“Kalau pergi sama temen, jangan mau dibayarin terus. Gantian. Kalau diajak nonton, bagianmu beli makanan dan minumannya buat berdua. Temennya kan masih sekolah juga. Uang jajannya pasti juga harus dipakai untuk keperluan lain. Kalau lagi pada nggak punya uang ya main di rumah aja. Nggak usah keluyuran”. Obrolan seperti ini sempat singgah juga di suatu sore. Suasananya santai tapi intonasinya tetap tegas dan nggak pake ketawa. Hehehe… kangen juga dengan suara dan tanyanya kalau ada temanku yang tiba-tiba jadi nggak muncul-muncul lagi ke rumah. Eh tapi inget juga loh papa sama Ary Hijriyah (kamu di mana ya Ry?). Inget waktu kamu ke rumah bawa-bawa cucianmu pake motor. Kita trus nyuci bareng ya… kalau capek ngucek, kita cerita-cerita dulu deh.

“Papa mau ngomong serius nih”. Ceileee sejak kapan sih papa ngomong nggak serius? “Ini soal kuliah nanti. Papa cuma mau bilang kalau bisa luluslah ujian di PTN. Kalau nggak lulus, ya nggak bisa kuliah”. Hadoh… akhirnya malam itu buka-bukaanlah si papa. Aku jadi tahu rinci berapa pendapatan murninya sebagai prajurit, rinci pengeluaran bulanan keluargaku dan rencana biaya kuliahku selama 5 tahun. Hehehe… tak pandang pandang dari dekat papaku… I know I love him so much! Dia selalu bisa memotivasi aku untuk bisa mengerjakan apapun.

Kau ingin kumenjadi yang terbaik bagimu

Patuhi perintahmu, jauhkan godaan

Yang mungkin kulakukan dalam waktuku beranjak dewasa

Jangan sampai membuatku terbelenggu, jatuh dan terinjak

Mengenang papa di suatu malam, 26 Agustus 2006.

Pake ditepuk-tepuk dan dinasehatin Bagas.

“Udah ibu, jangan sedih. Kakung kan nggak akan pulang lagi”. Duh!

PERJALANAN KISAH

August 15th, 2006 by lia-sunflower

Pertemuan “bling bling” terjadi pastinya karena ada yang unik menarik. Entah dari tatapan matanya, entah dari cara cepatnya menyebutkan nama dan kembali sibuk atau cuma sekilas yakin jika suatu saat nanti bisa bersama, bisa saling memiliki di 10 atau 15 tahun ke depan? Halah halah…

Persatuan “cling cling” terbina salah satunya karena ada pembicaraan yang kerap berbeda. Ada yang senang bicara A dan yang sedang haus dengan topik B sedang masanya untuk mendengar. Ujung-ujungnya sabar, semua punya informasi A dan B. Semakin kaya dong… Wo wo wo…

Yang menantang itu pemeliharaan “sring sring”. Ada masanya yang satu sibuk berat berkarya. Yang lain harus sabar menanti karena yakin yang sibuk pasti kembali. Waktu yang sedang terbagi, ya dinikmati… Kala-kala yang satu kurang cepat berjalan, teman seiringnya mendorong pelan-pelan atau boleh juga kencang kalau perlu. Di lain waktu, ada juga yang perlu diam di tempat atau bahkan mundur beberapa langkah. Bukan menghilang tetapi untuk menjaga harmonisasi semua seperti yang dilakukan matahari. Sometimes sun is covered by clouds. It has nothing to do with loyalty or sadness. It just steps back to maintain the harmonization and let the rain meets the ground.

Perjalanan kisah “kring kring” bukannya tanpa duri. Kadang tak bisa dihindari tetapi mendewasakan. Beberapa waktu berjalan dan alami masa-masa penuh pengertian adalah buah belajar dari perbedaan. Mengerti itu ternyata bukan setuju bulat-bulat, tetapi lebih ikhlas memberi ruang untuk memelihara perbedaan J

Utama 312, 14 Agustus 2006

Ada konser Ada Band loh…

MY DAY II

June 15th, 2006 by lia-sunflower

          Rasanya baru beberapa detik leeeeeerrrrrr…. Kaget aku bunga merengek, ngeeekkk. Mau pipis, diantarlah pipis. Mau mimik susu, pergilah bikin susu. Susu maunya di botol kecil, jadilah susu pindah ke botol kecil. Masih tetap merengek, belum lega hatinya. Mau pipis lagi, masak sih? Mau muntah juga, walah walah! Tengok punya tengok, baru 22.55. Hmmm… pantesan sepet bener mataku!

          Di tengah kericuhan, teringat juga berita sore yang dibahas Depokers. Kenapa juga sang ibu sampai khilaf sampai mengirim ketiga dunianya ke surga ya? Mungkin ini, mungkin juga itu… Yang pasti kerikil hidupnya jauh lebih tajam daripada hanya bunga yang merekah di tengah malam.

          Beres dengan si bunga, giliran matahari yang terbit. Halah halah, jangan terbit dulu sayang, ini kan masih tengah malam harapku. Ternyata keperluannya hampir sama. Mau pipis, diantarlah pangeran menunaikan. Pakai bonus gendong pula, hmmm… nikmati! Rasanya seperti mengangkat segallon minuman mineral.

          Pipis selesai sudah, tapi koq jadi nangis ya…??? Masih belum lega ternyata. Apa lagi ya kira-kira… Kugandeng erat tangan matahariku. Seret langkahnya diwarnai suara merengek, ehek ehek ehek… Sampai di tujuan, sambil merem matahari mengajukan permintaan. Bu, pijit ai lev fu (I love you), ya… kakiku sakit banget nih… Hihihi siap boss, laksanakan!!! Ngantuk dan lelah benar matahariku bersinar terus hari ini… Dipijit, ditepuk dan dibelai sebentar, matahari cepat terbenam. Untung tak seheboh bunga tadi.

          Selesai deh malam ini… tapi udah nggak ngantuk lagi… Tambah yakin lagi dugaan schizophrenia berat yang diderita berita sore tadi pasti disebabkan hal-hal yang lebih dahsyat daripada yang kualami. Di tengah kerewelan bunga matahariku, aku masih bisa merasakan kenikmatan. Anggap saja mereka rindu padaku. Anggap saja ini salah satu bentuk kemanjaan mereka dan anggap saja inilah waktuku untuk melayani mereka. Hap! Kutangkap lagi energi positif untuk bekal esok hari.

          Malam ini apa ya yang dipikirkan atau dirasakan si Ibu berita sore? Menyesal sudah pasti. Makin parahkah deritanya? Ini juga sudah hampir pasti. Beliau pasti semakin paham bahwa anak-anak manis lucu itu bisa dijadikan penghibur dan pengobat di kala beban menghimpit sakit. Lelah sudah tetapi tetap tak sanggup kutembus logikanya. Semakin kupikir semakin sulit terurai. Kukirim sebentuk doa untuk pasangan yang sedang dicoba. Mudah-mudahan setelah kesulitan ini, kemudahan segera datang.

           Ah sudahlah… pertandingan Arab vs Tunisia sedang berjalan. Score sudah 0-1 untuk Tunisia. Hmmm… terima kasih ya nak. Kalian memang alarm terbaik yang ibu punya… Sampai jumpa besok…

15 June 2006,

Score 2 – 2 untuk Arab vs Tunisia J

MY DAY I

June 15th, 2006 by lia-sunflower

          Seharian cuaca hati banyak berganti. Nggak beres. Banyak energi positif berubah negative. Yang dicita-citakan hari sebelumnya, berantakan! Suntuk, marah, ada air mata, ada keputusan cepat yang mungkin disesali tapi semuanya berakhir di Maghrib-Mu yang setia datang. Fiuh! Dunia rasanya terlalu penuh menampung semua kita…

          Keliling kompleks dan bermain kereta bersama bunga matahari menumbuhkan lagi energi positif. Renyahnya tawa dan cerita mereka hari ini menghapus berantakan hariku. Sebentar dilanjutkan membaca membuat sekelilingku makin banyak bertaburan udara segar. Kuraih dan kutiupkan beberapa biru untuk sinar jiwaku yang tadi sempat memerah juga.

          Semuanya membaik… enak nih nonton Spanyol vs Ukraina… tapi tiba-tiba leeeeeerrrrrr….

Mid June, 2006

MY LIMITATION

May 31st, 2006 by lia-sunflower

Kalimat “Your request is an order to me” baru mulai aku rasakan. Bukan karena terpaksa tapi karena aku melaksanakannya dengan cinta. Ikhlas pada titik pertama sulit dimunculkan karena permintaan yang diutarakan bertentangan dengan kemauan hati kita.

Diawali ketika kami berada di tengah-tengah kejadian yang merupakan kuasa Allah SWT. Menakutkan tetapi mengharuskan aku mengerahkan daya upaya dan pikiran untuk menyelamatkan matahari dan bungaku. Begitu juga ketika melihat kocar kacirnya suasana. Allah tahu betapa paniknya aku, tetapi dunia harus tetap terlihat indah di mata kedua hartaku (diilhami oleh film Life is Beautiful). Aku tahu mereka punya banyak pertanyaan, aku tahu mereka pasti bisa merasakan aroma ketakutan dan derita. Aku tahu itulah sebabnya mereka tidak bernyanyi Twinkle Twinke Little Star seperti biasanya. Untuk merekalah akhirnya aku tetap menepati janji untuk naik becak keliling kota dan bermain di kota lain.

Hari itu aku begitu tenang, malah sempat berpikir mengapa di luarku bereaksi lain (Maafkan aku untuk yang satu ini! Aku menyesal sungguh!). Egois sempat terlontar dari sinar jiwaku, tapi itulah aku ketika itu. Ternyata putus dari dunia informasi bisa juga menguntungkan bisa juga merugikan. Menguntungkan karena setidaknya aku bisa tetap tenang dan tetap berusaha berpikir logis. Merugikan karena aku jadi buta sama sekali dan kurang berempati. Begitu tersambung lagi dengan dunia informasi, begitu aku melihat dan mendengar lagi, baru aku menyadari keterbatasanku. Allah maafkan aku. Beri aku jalan untuk menebus kesalahanku.

Membantu sebisaku menjadi target. Tawaran ada, aku mendaftar, tetapi sinar jiwa meredup tak mengizinkan. Larangan yang begitu indah dan tak pernah merasa lagi sejak beberapa lama, tetapi tetap, keikhlasan pada titik pertama sulit dimunculkan karena lagi-lagi bertentangan dengan kemauan hati. Permintaan terus datang, hati mau beranjak pergi. Sampai detik terakhir sinar jiwa bimbang bertanya apa mauku sebenarnya? Aku mau a u a u a u, tapi tetap kusiapkan perbekalanku semalam (Maafkan aku lagi ya…). Aku berharap, mungkin sinar jiwa bisa meluluh, menerang dan mengizinkan?

Matahari terus bertanya kemana aku akan pergi, bunga tak begitu peduli dan tetap bernyanyi. Semua yang telah rapi tersusun, dikeluarkan tangan matahari. Kususun lagi sambil menerangkan maksud pergiku, tetapi dikeluarkan lagi dengan argumentasi tak terbantah. Terakhir pelukannya erat dan berlinangan air mata. Ibu jangan pergi, nanti tanahnya bergerak lagi. Aku nggak mau ibu pergi, aku nggak mau kalau tanahnya bergerak ibu nggak ada… Sinar jiwa dikuatkan, kututup semuanya dan berdoa semoga Allah SWT senantiasa memberi kekuatan serta kemudahan setelah kesulitan. Kepada yang tertimpa dan teman sukarela, maafkan keterbatasanku. Aku membantu dari jauh dan mendoa…

Sudah ikhlas, 1 Juni 2006

MY FRIENDSHIP

May 4th, 2006 by lia-sunflower

Friendship is not about how you get, but how you give

Friendship is not about how you listen, but how you understand

Friendship is not about how you see, but how you feel

Friendship is not about how you let go but how you hold on

(Dari teman baruku, di awal Mei 2006)

Quotes yang bagus! Membacanya membuat aku merasa hidupku sangat beruntung karena memiliki serakan teman-teman yang beraneka ragam di dunia kecilku ini. Beneran! Kututup dan kusimpan quotes tadi dengan senyum kecil, makasih ya…

Pagi ini aku baca lagi quotes itu. Rasanya sederhana tapi nggak juga lho. Ternyata quotes itu harus diaplikasikan bolak balik, minimal 2 arah, membutuhkan sensitivitas perasaan dan redaman egoisme. Berlebihan ya? Hmmm coba ya kita liat…

Friendship is not about how you get, but how you give

Memberi tentu saja yang baik dong… Memberi atau berbagi apa saja dengan teman yang satu untuk menyakiti teman yang lain tentu saja tidak termasuk dalam kategori ini. Proses berbagi yang dramatis (seperti bercerita tentang teman yang lain sambil menangis atau memelas) mungkin juga harus kita kurangi atau bahkan sebaiknya dihilangkan, karena teman yang mendengar pasti akan bingung bersikap. Harus didengarkan sajakah? Harus pakai dipelukkah? Harus aku datangikah yang menyakitinya? Harus bagaimanakah aku? Sebaliknya, kita yang mendengar juga harus jeli karena keragaman itu tadi. Kali ini jujurkah temanku padaku? Haruskah aku mempercayainya? Haruskah aku mengorbankan pertemananku dengan yang lain karena membelanya? Bener kan? Sensitivitas perorangan diperlukan di sini? Hihihi…

Di dunia kecilku, aku pernah berbagi tangis (yang dramatis nih contohnya)… Aku tau kepada teman yang mana aku harus pergi. Sebaiknya tidak lebih dari 2 teman dalam waktu yang bersamaan kali ya… kalau kebanyakan berbagi tangis nanti malah jadi sinetron. Emang kita nggak capek nangis terus? Nggak takut dehidrasi apa? Yang lain pegel juga ngeliatnya lagi… hayo pada ngaku!! Menumpahkan tangis kita bukannya tidak menguras energi teman kita lho. Teman yang baik pasti akan mencurahkan perhatian dan pikirannya untuk menolong kita, meskipun itu hanya dengan sebuah tatapan, genggaman tangan ataupun pelukan (halah halah… ). Oleh sebab itu kita juga harus memilah milah apa yang sebaiknya kita berikan kepada teman-teman kita… Jangan sampai apa yang kita berikan malah menyusahkan teman kita. Pengalamanku, cerita sedih pakai acara menangis itu bisa cepat terangkat kalau kita memang serius mau menyudahinya. Betul tidak?

Friendship is not about how you listen, but how you understand

Mendengarkan saja juga bukan berarti kita tidak menghargai teman kita lho… Ketika salah satu teman kita bercerita banyak dan semakin sulit dimengerti isi serta arahnya, kemauan kita untuk mendengar saja itu sudah patut diacungi 2 jempol lho (atau 4 sekalian?) Hihihi… Kuncinya pinter-pinter baca bahasa tubuh teman kali ya. Kalau teman sudah diam saja, sudah tidak menanggapi, inilah waktunya kita untuk diam dan pergi.

Di dunia kecilku, teman-temanku ternyata banyak mendengar, banyak juga yang mengerti dan banyak cerita beredar yang ditambahi pesan sponsor, “Jangan bilang siapa-siapa ya, hanya kepadamulah aku bercerita”. Di tengah episode, tanpa kita mengerti, cerita bersponsor tadi sudah begitu pesat beredar dan didengar sebagian besar teman kita. Pesanku, jangan terlalu merasa bersalah… kalianlah yang begitu mengerti untuk tidak saling berbicara dan mendengarkan, meskipun tujuannya hanya untuk saling  menyocokkan. Kalian memang terlalu baik…

Friendship is not about how you see, but how you feel

Tapi dari melihat kondisi teman, ketajaman perasaan kita bisa diuji lho. Ada masanya teman kita tidak mau diganggu, mereka tidak mau berbagi cerita, hanya mau sendiri saja. Sebagai teman, kita harus bisa “melihat” keadaan itu. Jika ada teman yang terlihat diam maka sapalah ia seperti matahari pagi menyapanya. Jika yang kaudapat hanya jawaban sekedarnya, diam dan tidak berubah sampai beberapa saat. Lihat dengan hatimu, beri dia ruang dan percayalah bahwa dia masih menyayangimu dengan caranya. Yang namanya teman, entah kapan waktunya, dia pasti merindukan dan menghampiri kembali. Tetaplah berusaha menyapanya sesetia matahari pagi, lihat keadaannya dengan mata hatimu dan turuti kemana hatimu mengajakmu berlaku…

Friendship is not about how you let go but how you hold on

Lah kalau dia pergi untuk kebaikannya dan kebaikan kita? Masa’ nggak boleh sih? Berteman itu adalah tentang meredam egoisme juga kan? Terkadang ada nih ragam teman yang kerjanya memaksa kita memancarkan aura negatif terus, memaksa kita berburuk sangka pada teman yang lain, memaksa kita mendengarkan hal-hal yang aneh,  yang secara nalar juga udah nggak masuk akal. Masa’ teman yang seperti ini nggak boleh pergi? Justru dengan membiarkannya pergi, kita bisa kembali memelihara hati, pikiran dan laku dalam berteman. Justru dengan membiarkannya pergi (dan jangan kembali) bisa membuat kita mengenangnya sebagai “kerikil” dalam persahabatan kita di dunia kecil ini. Dari keberadaannya juga aku jadi tahu, siapa saja temanku yang bisa memberikan service pelukan ketika kita berkeluh kesah, hahaha piss ah! Serius nih, temanku yang telah pergi tadi memaksa kita belajar tentang keragaman teman, kejujuran, kepercayaan dan kesetiaan di dunia kecil kita…

Teman, dunia kecil kita ini memang hutan. Hutan yang memiliki keragaman biologis yang tinggi, tempat yang punya kemampuan mencegah terjadinya erosi akibat kecepatan dan kesimpangsiuran berita dan yang pasti, hutan ini adalah rumah yang kita cintai. Hutan yang kita punya ini begitu melindungi dan membiarkan semua penghuninya berinteraksi di dalam suatu harmoni, termasuk membiarkan salah satunya pergi demi kelangsungan cerita hutan abadi…

Untuk semua penghuni hutan di dunia kecilku, I love you…

Jakarta, 5 Mei 2006

MY UNIVERSE

May 4th, 2006 by lia-sunflower

Masih melekat jelas mukaku yang tertekuk dalam, ketika mendengar salah satu atau kedua orang tuaku bertukar cerita tentang anak-anaknya kepada siapa saja. Males deh… menurutku itu adalah masa-masa penyiksaanku, bukan dengan pukulan, hinaan dan cercaan tetapi cerita-cerita keseharianku yang menurutku sama sekali nggak menarik dan banyak yang memalukan! Coba waktu itu Komnas HAM Anak udah ada ya… pasti Kak Seto akan tersenyum simpul mendengar semua laporanku atau malah masuk TV? Hmmm…

Puluhan tahun berlalu dan sekarang rodaku sedang menempatkan aku sebagai seorang ibu. Betapa aku menikmati kehidupanku sebagai seorang ibu dengan segala suka, suka, suka dan sukanya :)… Alhamdulillah, aku dikaruniai dua malaikat kecil, Bagaskoro dan Sekar, yang setiap detik hidupnya memberikan warna pada hidupku.

Ada tulisan yang aku sadur, aku revisi sesuai kebutuhanku dan aku setujui mentah-mentah. Maaf aku belum menyebutkan siapa penulisnya. Tetapi jika di kemudian hari aku menemukan siapa yang merangkai kata-kata indah ini, aku berjanji untuk untuk mencantumkannya di sini. Beneran!

Bagaskoro dan Sekar,
Kalian adalah gemerlap bintang di malam hari.
Bukan! Kalian lebih dari itu.
Kalian adalah pendar bulan di angkasa.
Bukan! Kalian lebih dari itu.
Kalian adalah benderang mentari setiap waktu.
Bukan! Kalian lebih dari itu.
Ternyata kalian adalah ringkasan semesta
Itu saja!

Tidak ada bosan rasanya menceritakan semua tingkah polah mereka sehari-hari. Teman-temanku adalah sasaran yang paling strategis untuk kubagi cerita tentang “ringkasan semestaku”.

Matahariku ini meskipun keliatannya keras, gagah perkasa dan nggak bisa diam (maaf ya, kecapku selalu yang nomer satu…), hatinya melo uwo uwo banget. Sudah 4 kali ulang tahunnya, aku selalu bertanya, “Kamu mau apa dari Ibu?” Dia selalu konsisten menjawab, “Aku mau keleta-keletaan (kereta-keretaan) sama mobil lemot (mobil remote)”. Hanya itu yang dia mau. Baru tahun ini aku masukkan (dengan sedikit memaksa) pilihan tenda supaya dia tambah senang melakukan kegiatan di luar rumah. Biasanya aku hanya akan mengabulkan satu saja permintaannya dan pilihannya akan terus berganti-ganti sampai mendekati hari H. Hari ini dia ingin kereta-keretaan, sejam kemudian diralat ingin mobil remote. Besok dia mau mobil remote, besoknya mobil remote, dan kereta dan mobil remote dan seterusnya. Termasuk penyiksakah aku kalau aku menikmati kegalauannya dalam menentukan pilihannya? Aku menikmati kerutan wajahnya ketika dia berpikir, aku menikmati caranya mengetuk-ngetukkan jari di dagunya, aku menikmati matanya yang berbinar ketika menyampaikan pilihannya dan aku menikmati semuanya sehingga aku selalu mulai menyampaikan pilihan itu dua minggu sebelum hari ulang tahunnya tiba. Termasuk penyiksakah aku? :)

Beberapa bulan yang lalu, Matahari kecilku ini mogok “sekolah”. Kalang kabut dong… secara “sekolah”nya pake duit getooo… kalo bayarnya boleh pake jagung atau papaya, mungkin reaksiku akan lain, mungkin… Aku coba tanya dengan berbagai cara, jawabannya masih hanya “aku cuma nggak mau”. Lama-lama keluarlah sedikit demi sedikit apa yang dirasakannya, termasuk mang ojek-nya yang suka telat jemput dan sekolahnya yang panas (nak, nak… di mana sih di Jakarta ini yang nggak panas?). Oke, tetapi aku belum menyerah, menurutku ini masih alasan yang (biasanya) bisa aku negosiasikan dengannya. Suatu malam setelah melihat bintang dan bulan di teras belakang rumahku, sekali lagi aku berusaha bertanya (nyecer lebih tepat kali ya…) kenapa dia enggan sekolah. Jawabannya cukup bikin aku mewek. Aku mau sekolah kalau Kakung (papaku) udah pulang dari surga. Aku pengen ketemu Kakung sebentar aja. Kan waktu Kakung meninggal aku belum sempat bilang aku sayang Kakung. Aku nggak mau kalau Kakung pulang aku pas sedang di sekolah. Aku menyerah lunglai deh… Ooo Bagas, Ibu sayang kamu, Nak… Termasuk lemahkah aku kalau kali ini aku menghargai pilihannya untuk “istirahat” sebentar dari kegiatan bersekolah?

Lain lagi dengan Bungaku. Menurutku dia begitu “keibuan” sama seperti ibunya deh (woo… yang kenal aku dilarang protes ya!). Senengnya ngaca dan pakai rok, kenes (centil), banyak bicara, pinter (sekali lagi maaf ya, kayaknya semua kecapku nomer satu dah) dan yang paling aku nggak tahan, dia pengen banget punya boneka Barbie. Aku? Aku sama sekali nggak bisa tertarik dengan Barbie, apapun kondisinya. Bukannya aku melarang orang lain untuk memiliki dan menghabiskan waktu mereka dengan boneka sexy itu ya… Aku hanya mencoba “meng-akukan” Bunga kecilku… Aku coba berbagai cara untuk menghalangi keinginannya memiliki boneka Barbie dengan berbagai alasan. Salah satu alasanku padanya, Barbie itu nggak suka bikin PR (Pekerjaan Rumah). Senengnya bikin kamu ganti-gantiin bajunya aja. Ibu nggak mau kamu ikut-ikutan nggak bikin PR. Di umurnya yang belum cukup 3 tahun, ternyata dia senang mengerjakan PR dari “sekolahnya”. Nyontoh ibunya lagi nih, hihihi… Itulah sebabnya aku merasa pendapatku akan lebih bisa diterima olehnya. Setelah mendengarkan alasanku, biasanya Bungaku akan bertolak pinggang, memajukan bibir mungilnya sedikit, berbalik menjauhiku sambil berkata, “Pusing aku pusing dengelin Ibu…”. Lagi-lagi aku menikmati kelakuan malaikat kecilku…

Seperti biasa aku selalu menelepon mereka sesampainya aku di kantor. Bukan untuk mengurangi rasa bersalahku karena aku bekerja di luar rumah dan meninggalkan mereka lho… Aku hanya ingin memastikan pesan “Ibu sayang kamu”ku hari ini sampai di telinga mereka. Biasanya mereka (Bungaku sih yang lebih sering) akan berkata, “Nanti kalau Ibu pulang bawain aku suatu (sesuatu) ya…”. Dalam senyumku aku hampir selalu mengiyakan. Sesuatu ini biasanya akan memacuku berpikir untuk membawakan hal-hal yang berbeda setiap harinya. Kalau malas berpikir, aku hanya akan ke pusat belanja sebentar dan mengambil susu monyet (sebutan mereka untuk susu Ultra Kids), coklat kecil, keripik singkong, buku cerita atau alat-alat tulis. Kalau sedang in the mood, aku akan rela berhenti di rumah tetangga untuk minta kembang sepatu. Kembang sepatu ini nantinya akan aku ambil putiknya lalu aku tempelkan di hidungku dan di hidung kedua malaikat kecilku. Nah, sore itu kami pasti akan main boneka pinokio… Atau aku akan minta daun cincau tetangga, membuat campuran remasan daun cincau dengan air dan bermain menjadi penjual/pembeli minyak. Hmmm soreku adalah waktuku untuk bereksperimen dengan semangat baru bersama matahari dan bungaku J

Masih soal Barbie nih. Dalam telepon pagiku, si Bunga memintaku membawakan sesuatu dan ketika kutanya, kali ini sesuatunya adalah Barbie. Ya Allah… kenapa nggak selesai selesai sih cerita Barbie ini… Aku masih tetap dengan alasanku, Barbie nggak pernah mengerjakan PR jadi kamu jangan temenan sama Barbie. Mau tau jawaban Manisku? Dalam lafal balitanya Sekar terdengar yakin. “Ibu, Bebi itu sukanya main telus kalo sole-sole. Nanti sole aku main dulu sama Bebi, abis main aku ajak Bebi keljain PL sama aku ya… Kalo Bebi nggak bisa aku ajalin deh.” Di seberangnya aku hanya bisa tersenyum dan bertekad dalam hati, sore nanti aku akan membawakan sesuatu Barbie untuk Bungaku. Bukan karena aku mulai menyukai pacar si Ken ini, tetapi karena aku ketagihan merasakan senyum kenes anakku. Atau mungkin juga karena aku menghargai usaha kerasnya untuk “mendekatkanku” dengan keinginannya. Oooh Sekar, Ibu sayang kamu…

Saat menulis cerita ini aku sadar-sesadar sadarnya bahwa lambat laun aku mulai “seperti” papa dan mamaku. Tidak bosan-bosannya bercerita tentang anak-anaknya. Kelak dadaku akan lapang jika matahari dan bungaku protes ketika melihat/mendengarku berkisah pada semua orang tentang warna hidupku bersama mereka. Mudah-mudahan tidak terbersit juga di benak mereka untuk melaporkanku ke Komnas HAM Anak karena aku menganiaya mereka… Aku dedikasikan cerita ini untuk papa dan mamaku, karena dari merekalah aku tahu bagaimana rasanya mencinta dan dicinta…

Jakarta, 4 Mei 2006